in

Serial Derby Terpanas: Al Ahly vs Zamalek, Derby Paling Brutal di Dunia Ternyata Ada di Ibukota Mesir

Bolabeten – Seorang wartawan The guardian dari Inggris, sengaja terbang ke Kairo, Mesir, dengan tujuan tunggal, menyaksikan laga derby antara dua klub satu kota di Kairo, Al ahly versus Zamalek. Si wartawan ingin jadi saksi langsung, tentang derby yang disebut-sebut terkejam di dunia itu.

Test mental pertama didapatkan wartawan itu dari supir taxi yang membawanya dari Bandara Sharjah Kairo menuju Stadion. Supir taxi yang mengaku pendukung militan Al ahly memberi saran bijak kepada wartawan yang mengatakan ingin melihat derby itu. “Do not go, you will be killed.”kata supir taksi.

“Jangan pergi kesana, kau bisa terbunuh.” kira-kira seperti itu maksud peringatan supir taxi. Tapi peringatan itu tak digubris, malah wartawan Inggris itu semakin nyinyir bertanya soal kehebatan dan kebrutalan derby yang sudah berlangsung sejak era 1970-an itu.

Ternyata banyak hal yang membuat derby Kairo ini begitu menakutkan, karena persaingan tak hanya soal sepakbola, tapi juga sentimen-sentimen lain yang mengiringi. Itu sebabnya, perseteruan antara kedua suporter begitu tajam, bahkan brutal.

Kota akan terbelah ketika tiba masanya hajatan Derby Kairo berlangsung. Bentrokan dan kegaduhan adalah bumbu umum untuk menggambarkan suasana kota Kairo sebelum laga. Tak jarang, pemerintah Mesir turun langsung untuk mendatangkan wasit asing demi memimpin Kairo Derby melihat rawannya keributan yang ditimbulkan ultras kedua kubu.

Itu sebabnya para pebisnis lokal pun sepakat untuk tak ada yang menyatakan keberpihakannya kepada salah satu tim demi menjaga kelancaran dan keharmonisan kota Kairo. Alasannya satu, pemerintah dan pebisnis mengerti potensi kekacauan macam apa yang akan terjadi jika bentrokan dalam skala besar pecah di kota Kairo antar kedua ultras. suporter Mesir berhasil mendapatkan status mereka sebagai suporter yang brutal. Tragedi Port Said yang menewaskan 74 suporter Al Ahly ketika sang klub bertamu ke kandang Al-Masry adalah buktinya.

Lebih jauh, panasnya derby Kairo jauh lebih dari sekadar kebanggaan klub. Ini tentang nasionalisme, kelas sosial, dan pelarian. Akar persaingan dapat ditelusuri kembali ke masa ketika tentara Inggris berjalan di jalan-jalan Kairo. Sepak bola hampir secara universal dianggap sebagai satu-satunya impor budaya populer Inggris, tetapi baru pada tahun 1907 klub Mesir yang dikelola secara lokal.

Al Ahly, muncul. Nama ini diterjemahkan sebagai ‘The National’ dan Ahly, mengenakan warna merah tua dari bendera pra-kolonial, dipandang sebagai sebuah tim untuk negara, benteng melawan pendudukan dan kesempatan bagi rata-rata pria di jalan untuk berkumpul bersama untuk penyebab nasionalistis yang umum.

Sebaliknya, Zamalek, yang mengenakan pakaian putih, dianggap sebagai tim orang asing (Inggris) dan orang luar. Itu juga klub Raja Farouk yang dibenci. Di sudut merah Anda memiliki orang yang saleh, miskin dan sombong; di sudut putih kelas menengah liberal dan borjuis. Sampai saat ini pembagian seperti itu masih ada.

Dari sini wartawan Inggris itu mengerti, mengapa supir taxi yang merupakan pendukung Al Ahly itu memberinya peringatan bernada ancaman itu. Bagaimana tidak, sentimen Inggris yang masih melekat pada Zamalek adalah pemicunya. Apalagi dia akan menonton di Stadion Al Ahly yang pasti akan dipenuhi 100 ribu orang berbaju merah.

“Ketika saya tiba di Stadion Internasional Kairo, jelas pihak berwenang tidak mengambil risiko. Jalan menuju stadion dipenuhi oleh polisi anti huru-hara berpakaian hitam dan petugas berpakaian preman, secara acak mengangkut pendukung dan membawa mereka pergi untuk digeledah. Rasanya lebih seperti darurat militer temporer daripada pertandingan sepak bola. Di dalam, kelompok Ultra Ahly sudah dengan suara bagus, beberapa jam sebelum kick off.”tulisnya

Al Ahly adalah klub sepak bola pertama yang menjadi 100 persen orang Mesir sehingga sangat nasionalistis. Tetapi Zamalek, masih sering diejek sebagai setengah Inggris.”Dua partai politik terbesar di Mesir adalah Ahly dan Zamalek. tapi ini sepakbola, Ini lebih besar dari politik. Ini lebih tentang pelarian.”

“Rata-rata penggemar Ahly adalah seorang pria yang tinggal di apartemen satu kamar dengan istri, ibu mertua dan lima anak. Dan dia dibayar upah minimum. Satu-satunya hal yang baik dalam hidupnya adalah bahwa selama dua jam pada hari Jumat dia pergi ke stadion dan menonton Al Ahly.

“Itulah sebabnya adalah kewajiban untuk memenangkan setiap pertandingan untuk membuat hidup orang-orang bahagia. Kami mungkin satu-satunya klub di dunia di mana para penggemar kami berharap untuk memenangkan setiap pertandingan.”ucap salah satu pemain Al Ahli.(*)

*) dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Penalti Sergio Ramos Bungkam Bilbao, Real Madrid Kini Tujuh Angka Diatas Barcelona

Dari Pelosok Dharmasraya, SSB Porass Junior Abai Siat Gelorakan Lagi Asa Pesepakbola Usia Muda