in ,

Sebuah Catatan Indra Dt Rajo Lelo, SH : “Berbagi Pengalaman Menjadi Manajer PSP Padang ! Mengerti PSP dan Paham Peraturan”

Indra Dt Rajo Lelo (kiri gambar) ketika menjadi manager PSP dengan pemainnya, Yusra Antoni dan Jumadi Rais/istimewa
Indra Dt Rajo Lelo,ketika jadi Menejer PSP Padang

Ketika mendengar banyak yang berminat menjadi Manajer PSP, terus terang saya merasa sangat-sangat gembira. Sebab bila itu benar, Alhamdulillah beban berat yang selama ini saya pikul, akan bisa digantikan oleh yang lain.

Jujur saja, hal itu juga bukan karena saya tidak cinta lagi kepada PSP. Apalagi dalam kapasitas sebagai pengurus PSP, tugas sebagai Manajer, justru saya lakukan karena rasa tanggung-jawab dan cinta saya pada PSP. Tapi ketika ada yang mau dan lebih mampu, saya pasti akan sangat mendukungnya.

Latar belakang kegembiraan itu pulalah yang membuat saya ingin menulis dan sedikit bercerita dan berbagi pengalaman selama menjadi Manajer PSP Padang khususnya selama empat tahun terakhir. Paling tidak, dengan berbagi pengalaman seperti ini, calon-calon Manajer – yang katanya sekarang banyak muncul – akan tahu dan mengerti bagaimana sebenarnya menjadi Manajer PSP Padang.

Pertama yang ingin saya garis bawahi adalah soal PSP Padang. Sudah jadi rahasia umum, bahwa PSP bukanlah tim elit dan kaya raya seperti tim-tim lainnya. Karena itu bagi seorang Manajer PSP, jangan harap akan dapat memenej keuangan tim dengan gampang. Karena memang duit itu betul yang sangat kurang. Justru yang diminta dari seorang Manajer PSP adalah bagaimana ia mengelola dan memenej keuangan tim dengan sehemat mungkin, tapi dengan tuntutan prestasi yang sangat maksimal.

Kedua, masih soal keuangan tim. Tugas Manajer PSP sebagaimana yang saya rasakan selama ini adalah lebih banyak hanya untuk memenej keuangan tim dengan catatan uang itu disediakan atau dicarikan oleh pengurus. Jadi, Manajer Tim PSP tugasnya hanya mengatur penggunaan uang yang disediakan pengurus dan bukan berusaha pula mencari uang. Itu sebabnya ketika beberapa rekan wartawan mempertanyakan soal kenapa dana PSP hanya sebanyak yang disediakan APBD tanpa ada dana lain yang dicarikan Manajer, jawabannya ya seperti yang saya katakan di atas.

Ketiga, dalam hal pelaksanaan pengelolaan keuangan. Yang selama ini terjadi adalah bahwa uang yang disediakan atau diberikan pengurus justru lebih banyak kurangnya daripada berlebih. Itu semua bukan karena pengurus tidak berusaha. Sebab sebagai pengurus saya juga tahu bagaimana tunggang-langgangnya Bapak Yusman Kasim selaku Ketua Umum PSP berusaha mencarikannya.

Untung pula ia dibantu Sekum PSP N. Nofi Sastera yang ready kapan dan dimana pun siap dan bisa mempersiapkan semua surat dan bahan-bahan yang diperlukan dalam hal pencarian dana. Tapi yang banyak terjadi pada akhirnya seperti saya katakan di atas, jumlah yang didapat tetap lebih banyak kurangnya daripada berlebih.

Keempat, dan ini yang sangat penting untuk dicatat para calon Manajer yaitu saat masih dalam tahap seleksi dan latihan berjalan menjelang tim terbentuk. Prosesnya bisa berlangsung sekitar tiga atau empat bulan. Selama tiga atau empat bulan itu, nyaris tidak ada dana yang disediakan oleh pengurus. Karena pada umumnya pembentukan tim cenderung berlangsung di akhir-akhir tahun.

Otomatis, anggaran yang tersedia, jelas belum ada. Karena anggaran sebelumnya baik dari APBD maupun dari ABT di Perubahan APBD, juga sudah tersedot habis untuk tim sebelumnya, bahkan itu pun masih sering kurang.

Sebagai contoh bila kita ingin membentuk tim PSP untuk Divisi Utama tahun 2008 nanti. Jujur saja, PSP saat ini tak punya dana lagi. Benar bahwa PSP mendapat bantuan dari Perubahan APBD Sumbar maupun APBD Kota Padang. Namun dana tambahan dari kedua ABT itu masih belum cukup untuk menutupi kekurangan tim PSP 2007 yang Alhamdulillah telah lolos ke Divisi Utama. Dengan kondisi seperti itu, jelas untuk pelaksanaan seleksi dan latihan berjalan menjelang terbentuknya tim – mungkin selama November 2007 sampai Februari 2008 nanti – PSP tak punya dana untuk kebutuhan selama seleksi dan latihan berjalan itu.

Kesimpulannya, dan inilah yang selama empat tahun ini saya rasakan, sebagai Manajer, saya harus merogoh kantong pribadi bahkan sampai ratusan juta sebelum diganti di bulan Februari atau Maret, saat dana APBD sudah bisa dicairkan.

Kelima soal ikatan kontrak si pemain. Sudah merupakan hal yang wajar bila banyak pemain ingin segera diikat kontrak. Hal itu agar mereka bisa lebih tenang dan tidak repot lagi mencari klub lain. Namun dalam hal ini jika seorang Manajer tidak tahu persis dengan kebutuhan pemain di satu tim, bisa-bisa ia mengontrak pemain yang hanya bagus sesaat. Istilahnya, kita akan tabali lado pagi.

Sebab proses seleksi dan latihan berjalan itu lamanya sekitar tiga sampai empat bulan. Bila di bulan pertama saja kita sudah melakukan ikatan kontrak, sementara di bulan-bulan berikut masih banyak pemain yang melamar, bisa-bisa kita akan mengontrak pemain yang hanya punya skill seadanya. Dalam hal ini, kerjasama dengan tim pelatih sangat dibutuhkan. Sebab yang akan memakai pemain di lapangan adalah si pelatih. Oleh karena si pelatih-lah yang lebih tahu kebutuhan pemain untuk timnya. Karena itu sebelum ada persetujuan dari pelatih, sebaiknya jangan melakukan negosiasi apapun dengan si pemain.

Dalam hal mengikat pemain asing, juga ada jurus tersendiri yang harus diketahui oleh seorang Manajer. Seperti yang dikatakan di atas, jangan tergesa-gesa dalam melakukan ikatan kontrak. Karena sebagai orang mempekerjakan si pemain, adalah hak manajamen untuk kapan harus mengikat si pemain dengan kontrak yang pasti. Apalagi, biasanya pemain yang melamar juga banyak. Karena itu sekali lagi jangan tergesa-gesa. Adalah wajib, pemain yang akan dinegokan kontraknya, sudah mendapat rekomendasi atau persetujuan dari pelatih.

Keenam, soal pendaftaran tim. Ini juga membutuhkan kiat-kiat khusus dan juga dukungan hubungan baik dengan pengurus atau petugas pendaftaran di BLI maupun PSSI. Lebih-lebih soal pemain asing. Banyak syarat dan ketentuan yang diperlukan. Termasuk dalam melakukan nego dengan agennya. Ini juga dibutuhkan kiat-kiat tersendiri. Sebab bila tidak begitu, bisa terjadi kita membeli pemain terlalu mahal. Sementara dengan kondisi keuangan PSP yang serba minim, apakah itu mungkin?

Di sisi lain, keahlian atau pengetahuan dari seorang Sekretaris Tim dalam hal peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam hal kontrak dan pendaftaran pemain juga sangat dituntut. Dalam hal peraturan misalnya, salah-salah pendaftaran pemain yang kita lakukan terpaksa harus berulang-ulang ke BLI. Jika itu terjadi, berapa biayanya? Dalam membuat klausul kontrak juga begitu. Harus sangat dipahami hak dan kewajiban si pemain, disamping hak dan kewajiban kita sebagai owner atau pemilik klub. Jika salah menuliskan klausul kontrak, bisa-bisa tim yang dirugikan.

Beberapa hal di atas, baru sebagian dari kiat-kiat yang harus diketahui seorang Manajer Tim. Masih banyak hal lain yang cukup panjang bila dituliskan semuanya. Terutama soal keuangan tadi. Jika tidak pandai-pandai memenej keuangan, bisa-bisa biaya tim jadi membengkak. Begitu juga dalam hal mencapai prestasi tim. Jika tidak tahu bagaimana kiatnya, meski tim sudah bagus, jangan harap bisa jadi juara.

Terlepas dari itu, jika memang banyak yang berminat jadi Manajer PSP, saya secara pribadi tentu akan mendukung. Namun sebelum berpikir untuk jadi Manajer PSP, saya juga ingin mengingatkan untuk berpikirlah secara lebih jernih. Karena seperti yang saya alami, khususnya seusai Kompetisi Divisi I tahun 2007 ini.

Meski sudah berhasil meloloskan PSP ke Divisi Utama dengan dana yang sangat minim, jangankan pujian dan terima kasih yang didapat, namun justru umpatan dan caci maki yang diterima. Mungkin benar bahwa memang begitulah dunia. Namun hal ini pulalah yang perlu saya ingatkan lewat tulisan ini. Sebab bila tidak kuat mental, bisa-bisa kita akan terlibat polemik di media massa, atau bahkan lebih buruk dari itu.

Nah, bagi para calon Manajer PSP yang baru. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Anda jadikan pegangan. Dan semoga pula, di tangan Anda, prestasi PSP Padang akan lebih baik lagi. Saya pribadi tentu akan kecewa, bila nanti PSP jatuh lagi ke Divisi I. Untuk itu, pahamilah dulu kondisi di PSP, dan juga berusahalah untuk mengerti dengan semua ketentuan dan peraturan yang berlaku. Jika itu sudah oke, silahkan maju jadi Manajer PSP. Salam. (*)

Penulis : Indra Dt. Rajo Lelo, SH adalah Mantan Manajer PSP Padang selama empat periode sejak masih di Divisi III sampai meloloskan PSP ke Divisi Utama PSSI). Sekarang Ia merupakan Ketua Asprov PSSI Sumbar dan Pengurus PSSI Pusat.

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Hanya Enam Negara di Dunia yang Memakai Lambang Negara di Jersey Timnas; Karena Perintah Presiden Sukarno, Indonesia Salah Satunya

Jelang Tarung 12 September: Takut Digigit Mike Tyson Seperti Holyfield, Roy Jones Asuransikan Telinga