in , ,

Percakapanku ! Spirit Pembinaan Yang Terganjal, “Biarkanlah mereka yang urus lagi”

Sepakbola Sumbar

Ilustrasi sepakbola anak-anak kampung/gambar: kumparan com

Oleh : ADRIL MY

Jum’at, 18 September 2020, malam jam 21.18 WIB. Pesan WhatApps (WA) saya kirimkan ke seseorang. “Bang“, pesan terkirim, menyapanya.

Lima menit, sepuluh menit dan waktu beranjak. Masih belum ada jawaban ataupun “centang biru“, tanda pesan terbaca dari nomor akun WA yang saya japri (jalur pribadi).

Saya pun melanjutkan aktivitas, menuliskan lagi naskah berita untuk pemberitaan media online bolabeten.com, wadah profesi saya dalam mengabarkan informasi kepada publik, khususnya sepakbola.

Ya, sepakbola. Salah satu cabang olahraga yang paling digemari masyarakat bumi ini. Tempat, idealisme saya tercurah. Senang hati mengabarkannya. Spesial soal sepakbola tanah kelahiran, Sumatera Barat.

Sumatera Barat dengan ibu kota nya Padang. Kota kelahiran yang akhir-akhir ini membuat pikiran tercurah. Padang dengan sepakbola nya. Dikatakan orang etalase persepakbolaan Provinsi Sumatera Barat.

Tetiba, ada yang berbunyi. Android, telepon pintar bercuit-cuit, pesan masuk ke WA saya . Jam 00.54 WIB, Limapuluh empat menit setelah pertukaran hari ke Sabtu, 19 September 2020.

Yop Pak Adril,” tulisan yang terbaca. rupanya balasan dari seseorang yang saya kirimkan pesan pada jam 21.18 WIB, tadi.

Secepatnya balasan pesan saya kirim.

Dima (dimana) Bang ? Ba a jadinyo (Bagaimana kelanjutannya) Liga Anak?”

Ya, pertanyaan yang sebenarnya pangkal hati saya tergerak ingin tahu sesuatu hal ke sosok yang saya sebut Abang ini. Menyoal buncahnya persepakbolaan Kota Padang setelah kick-off nya Liga Anak Kota Padang 2020, yang turut saya beritakan, dua hari lalu, Kamis (17/9).

Berpolemik, pro-kontra di tengah situasi pandemi Covid-19 karena dianggap belum mendapat dukungan dari petinggi organ persepakbolaan Kota Padang. Meskipun itu program kerja dari rahim organ sendiri. Serupa Liga Askot yang telah berjalan lagi, di situasi yang sama, pandemi virus corona.

Kunci nyo ado yang lapeh tangan Pak Adril“, (- kuncinya, ada yang lepas tangan). Sama kami, Ia katakan support. Di belakang kami dia seakan tidak peduli. Buat sementara kami menunggu dulu lah. Kalau tak ada masukan yang bagus. Biarkanlah mereka yang urus lagi,” jawab Abang yang saya hubungi ini.

Kini, kami diam saja dulu. Kami tidak akan komentar apapun soal statemen yang dikeluarkan oleh petinggi-petinggi itu. Setelah ada surat kuasa yang jelas dari Exco kami baru kami pikirkan kembali,” lanjutnya.

Yang jelas SSB kan sudah membaca. Bahwa Liga Anak tidak mereka izinkan. Jadi kalau ada SSB yang bertanya Liga Anak gimana. Silahkan tanyakan ke petinggi-petinggi yang telah menghentikan Liga Anak karena Covid dan tetek bengek nya,” jelasnya.

Saya terdiam, menyimak balasan panjang ‘chatting‘ an, si Abang yang tak ingin saya sebutkan namanya ini.

Abang yang bagi saya termasuk salah satu tokoh pembina di antara 24 SSB peserta Liga Anak Kota Padang, yang “diselesaikan” oleh petinggi organisasi saat baru saja memainkan pekan perdana. Petinggi yang memasukannya ke dalam daftar pengurus salah satu bidang organisasi yang dia pimpin.

Saya tidak ingin terlibat dulu dengan polemik ecek-ecek serupa ini. Keinginan kami dengan kawan-kawan. Gimana anak-anak binaan kami di SSB ada event nya,” terangnya di lanjutan pesan yang saya baca.

Kini, kami balik dulu ke SSB masing-masing. Kami tidak meminta yang macam-macam. Kami hanya minta anak-anak kami ada Liga nya juga. Supaya Kota Padang maju pembinaan pesepakbolaan usia mudanya,”

Tidak ada kami minta uang ke dia. Kami buat Liga Anak, lantaran tanggung jawab moral ke anak-anak Kota Padang saja.” tulisnya mengakhiri percapakan.

Ada genangan di bola mata yang tidak saya sadari tersapu di pelupuk mata. Meraskan betapa besar spirit pembina-pembina SSB dalam menghadirkan ajang kompetitif untuk pemain-pemain binaan mereka U-13 U-15 dan U-17.

Saya termangu, teringat kompetisi bebas usia yang telah kembali digulirkan oleh pengurus organ resmi persepakbolaan Kota Padang meski juga di tengah pandemi Covid. Liga dengan regulasi bebas usia dan hanya mengakomodir tiga pemain muda. Itupun kelahiran diatas U-17 tahun.

Yang mengakomodir klub yang nyata-nyata belum ketok palu di kongres sebagai anggota organ resmi penyambung federasi sepakbola di negara ini. Yang berkompetisi dengan uang rakyat melalui fasilitas yang didapat petinggi organisasi sepakbola kotaku, karena Ia sedang super power duduk di suatu lembaga penyambung aspirasi rakyat.

Teng .. 03.36 WIB, tengadah sayapun tak sengaja melirik bulatan cukup besar di dinding dekat meja biasa saya menulis. Sudah larut malam. Pikiran bergelayut tentang persepakbolaan kotaku, ku bawa ke peraduan. (***)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Timnya belum juga berlatih, Kiper Perserang ini jadi ‘ABAK SIAGA’ di Talawi, Sumatera Barat

Bek PSM Makassar ikuti latihan PSMS Medan