in , ,

OPINI : Intropeksi dirilah para pembina dan pelatih! Apakah perlu pinjam pemain SSB lain di setiap turnamen?

Sepakbola Sumbar

drg. Irsyadi, penggiat sepakbola Usia Muda Kota Padang dan Sumatera Barat/istimewa

Oleh : Drg. Irsyadi
(Penggiat dan Pemerhati Sepakbola Usia Muda Kota Padang dan Sumbar)

Turnamen sepakbola usia dini/muda akhir-akhir ini kembali marak di Sumatera Barat. Berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) ramai-ramai tampil untuk memberikan wadah bagi pemain binaan mereka dalam mengukur kemampuan.

Tujuannya, tentu mengukur sejauh mana hasil program latihan yang disuguhkan para pelatih di SSB masing-masing. Pun untuk jam terbang si pesepakbola muda itu sendiri. Yang nantinya jadi bahan evaluasi dan pembenahan keterampilan mereka di saat turnamen berakhir.

Tetapi, ada hal yang menarik yang saya amati dengan banyaknya turnamen usia dini dan muda di penghujung tahun ini. Sebuah fakta dan fenomena yang mengusik hati saya pribadi.

Selaku salah satu pembina SSB dan tulus membina bakat bakat dan talenta pesepakbola usia dini dan muda di Kota Padang. Saya menyoroti adanya fakta dan fenomena yang kerap terjadi di setiap gelaran turnamen tersebut. Ya, selalu terjadi peminjaman pemain antar SSB.

Menurut saya, fakta yang sangat memprihatinkan. Bagi perkembangan dan kelanjutan SSB. Mengkerdilkan ketulusan orang-orang yang benar-benar punya hati pembinaan.

Buat apa pinjam pemain ? Benarkan hanya demi menjuarai turnamen? Biar orang bilang SSB kita hebat? pelatihnya juga hebat?

Nonsense itu ! Kalau maunya juara, buat apa pembinaan ? Bikin SSB? Buat saja klub, beli pemain. Ada uang, ada barang. Lantas juara, kemudian bangga. Dua atau tiga hari setelah juara orang akan lupa? Habis itu, apa lagi ?

Bukankah kita sepakat, memberikan jam terbang bermain untuk pemain menjadi tanggungjawab SSB, tempat anak tersebut bernaung. Kasihan sekali melihat orang tua yang sudah rela meluangkan waktunya mengantarkan si anak latihan di SSB nya. Lantas, saat ada turnamen, SSB tersebut justru memakai pemain SSB lain. Bayangkan bagaimana perasaan orang tuanya. Bahkan, menjatuhkan mental si anak sendiri.

Saya rasa akan lebih baik jika latihan yang telah dilaksanakan di SSB masing-masing bisa dilakukan evaluasi setelah mereka ikuti setiap turnamen.

Aneh bin ajaib saja. Yang latihan anak kita, yang bertanding anak orang. Evaluasi apa yang mau dilakukan? Menjuarai turnamen ?? Memang Sangat bagus, tapi menurut saya, bukan hal yang paling prinsip bagi SSB. Justru, yang terpenting adalah bagaimana SSB tersebut memikirkan cara mengembangkan kemampuan dan bakat anak-anaknya.

Sayang dan sayang sekali. Banyak pelatih usia dini/muda di beberapa SSB yang melupakannya. Menepikan, apa dan bagaimana tujuan dari SSB tersebut.

Ayo.. mungkin kita perlu kembali ke tujuan semua. Membuka lagi bermacam literatur apa sebetulnya SSB itu.

Marilah kawan-kawan seperjuangan. Kita semua perlu melakukan introspeksi diri. Apa-apa saja yang sudah kita lakukan di SSB kita masing-masing. Tak hanya soal pinjam meminjam pemain, juga menghentikan rekayasa umur pesepakbola usia dini/muda yang turut memperparah hakikat kita membina di SSB masing-masing.

Salam Sepak Bola Usia Dini/Muda !

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Dirtek PSSI sebut Garuda Select III dari Pemain Piala Soeratin U-15 dan Rekomendasi Elite Pro Academy U-16

Didesak AFC, PSSI belum tentukan wakil Indonesia di Piala AFC 2021