in ,

SukaSuka

Feature : Pesepakbola, Pelatih dan Wasit, “Tuah ayam nampak di kaki, Tuah manusia siapa tahu?”

Kisah Berjudul BAYU PRATAMA

Bayu Pratama, Wasit Muda Nasional EPA Liga U18-2019/ist

Padang, bolabeten

Terkadang kita mengira bahwa sesuatu yang kita rencanakan akan berjalan dengan sempurna. Tapi itulah rezeki yang telah ditentukan Allah SWT untukmu.

Ada dua hasil yang kau terima diluar dugaanmu. Ada satu target yg sangat kau inginkan dan menurut mu akan menjadi luar biasa kalau bisa melaluinya. Sehingga kau siapkan semuanya jauh-jauh hari dan kau perjuangkan untuk mendapatkannya dengan keringat dan susah payah dalam latihan. Tetapi kau gagal total ketika melalui ujiannya.

Dan ada satu jalan yang kau ambil tetapi kau tidak ada persiapan sama sekali. Tetapi ketika ujiannya kau bisa melalui satu tahap dan bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Maka saat rencana yang kamu impikan tidak berbuah kenyataan, bersabarlah. Itu lah rezeki yang di tetapkan Allah untukmu. Allah memberikan yang memang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan. Sudah pasti Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih indah dari apa yang kau inginkan.

Maka apapun episode hidup yang kau lalui pada detik ini. HANYA SATU YANG KAU BUTUHKAN, YAITU BERSYUKUR !”

– (Bayu Pratama-28 Maret 2020).

Tulisan yang tercantum di beranda status media sosial facebook, tertera di akun bernama Bayu Pratama, sekira tiga bulan silam. Mengungkapkan isi hati yang dirasakan. Agaknya menggambarkan kesabaran dan keiikhlasan dalam menjalani kenyataan hidup.

Ibarat pepatah “Tuahnya ayam nampak di kaki, Tuahnya manusia siapa tahu?”. Peribahasa yang menggaris bawahi untung atau malangnya nasib tiada yang tahu.

Ya, panggilannya Bayu. Lahir di Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya di Sumatera Barat pada 21 Januari 1996. Sejak usia dini, sepakbola adalah candu baginya.

Digilai. Usia SD, Bayu mengasah diri dengan masuk SSB Bukit Raya, Pekanbaru. Bermain dan berlatih. Tapi nasib membawa Ia dan keluarga meninggalkan perantauan. Usaha orang tua Bayu kecil ‘ludes’ pas saat dia menamatkan sekolah.

Orang tuanya putar haluan, memulai usaha yang baru di kampung halaman, Dharmasraya. Bayu menginjak remaja dan meneruskan pendidikan SMP di Dharmasaraya.

Di SMP, Ia makin semangat berlatih. Berbagai turnamen sepakbola antar sekolah diikuti. Cita-citanya menjadi pesepakbola serupa idolanya, Bambang Pamungkas dan Francesco Totti.

Di SMA, Bayu menorehkan prestasi lumayan dengan tim sekolah. Dua kali posisi runner-up Liga Pendidikan Indonesia se-Dharmasraya. Ia pun terpilih perkuat PS. Dharmasraya untuk turnamen Semen Padang Cup U22/2012.

Semangatnya meniti karir tambah menyala. Saran pelatih, mengantarkan Bayu ke Padang. Selepas ujian akhir SMA, bergabung dengan PSTS Tabing.

Sambil berkuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP Padang. Bayu bersama generasi PSTS waktu itu, Arif Satria (Persebaya) dan Ronaldo Eko Julianto (Kalteng Putra FC), rutin berlatih di lapangan PSTS Tabing.

Bayu bersama Arif Satria (Persebaya) dan Ronaldo Eko (Kalteng Putra) semasa di PSTS Tabing/ist

 

Harapan Yang Terkubur

Memasuki dua tahun di PSTS Tabing. Naas menimpa Bayu. Di Turnamen segitiga antara PSTS Tabing, Semen Padang U-21 dan Prapon Banten pada penghujung tahun 2014.

Bayu mengalami cedera di pertandingan PSTS versus Semen Padang U-21. Di tengah laga, terinjak pemain lawan. Ia, tidak bisa melanjutkan pertandingan. Esok hari, pemeriksaan dokter memvonisnya operasi. Cederanya robek ACL di lutut kiri.

Tak punya biaya untuk operasi. Pengobatan alternatif dipilih untuk penyembuhan. Cuma saja kenyataan harus dihadapinya. Cedera ACL lutut kirinya tidak bisa disembuhkan.

Karir pesepakbolanya terbayang suram di usia muda. Impian untuk mencapai level profesional terkubur.

Tiga bulan berselang. Cobaan juga mengujinya. Tepatnya Maret 2015, Ayah tercinta berpulang ke Rahmatullah setelah berjuang melawan sakit yang diderita.

Terpukul. Kepergian Ayah menyeret kehidupan keluarganya ke posisi sulit. Bayu mengambil keputusan cuti kuliah di semester 3 selama 1 tahun.

Ia berusaha keras meringankan beban sang ibu untuk membiayai sekolah adiknya. Dan menabung, supaya bisa lagi melanjutkan kuliah. Dari membantu teman jualan hingga menjadi satpam kontrak di Bank BNI Koto Baru di akoni sepanjang 2015.

Diluar itu, Bayu benar-benar tak bisa meninggalkan sepakbola. Ia mengambil lisensi pelatih untuk bisa melatih anak-anak di kampung. Dunia kepelatihan digeluti.

Memegang Lisensi D Nasional Kepelatihan. Di sepakbola, anak-anak SSB di Koto Baru, tempat awal menerapkan ilmu.

Setahun berlalu. Bayu kembali ke bangku kuliah. Ia juga merasakan cedera ACL lututnya tidak lagi mengganggu. Di tahun 2016 itu, Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) Sumbar 2016 membawanya bela tim futsal Dharmasraya. Memang bukan sepakbola. Dan performanya, tak lagi sama seperti sedia kala. Karir sepak menyepak benar-benar pupus.

Tahun berganti. Bayu tak mau patah arang. Masuki 2017, Ia memutar otak. Sambil mengais masa depan di dunia olahraga mesti ia perjuangkan. Bagaimanapun, status mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan serta merta bisa jadi ladang pengabdian dan masa depan.

Ia melatih tim Futsal Putri Pasche Universitas Negeri Padang membantu Ridho Bahtra nan notabene senior dan dosen FIK UNP. Pasche FC UNP yang bermain di kompetisi resmi Liga Futsal Nusantara Sumbar di kategori putri ke puncak prestasi. Juara LFN Sumbar.

Bersamaan dengan itu. Bayu mengendalikan tim sepakbola Kecamatan Koto Baru di turnamen antar kecamatan se-Sumatera Barat, Minangkabau Cup 2017.

 

Terpasah Menjadi Wasit

Masih 2017. Bayu beralih peran. Mengambil lisensi C3 wasit sepakbola. Ia kembali ke lapangan hijau. Kali ini ke tengah lapangan menjadi pengadil pertandingan.

Pikirnya, kalau di kepelatihan jenjang karirnya panjang dan butuh waktu lama untuk berkiprah di nasional. Pindah ke jalur wasit, Bayu menargetkan pentas sepakbola nasional.

Slow but sure. Tekadnya kuat. Pengalaman pesepakbola amatir dan kepelatihan padu padan dengan ilmu perwasitan. Menjaga kondisi. Berbagi pengalaman dengan senior-senior perwasitan Sumbar.

Dapat kepercayaan memimpin laga ke laga di lingkungan Askot PSSI Padang dan Asprov PSSI Sumbar, Bayu juga meningkatkan lisensi wasitnya, C.2.

Sepanjang 2018 belajar dan belajar, menimba pengalaman dengan berbagai tugas pertandingan. Liga 3 Indonesia Zona Sumbar, Porprov Sumbar.

Pada 2019, kesempatan besar datang. Mengantongi Lisensi Wasit C.1, Bayu juga dipercayai Komite Wasit PSSI Sumbar mengikuti Premier Skills Referee Development Level 2 di PSSI Pusat. Tugas nasional pun diemban dengan baik. Liga 1 U16, Liga 1 U18, Liga 1 U20, Liga 1 Putri dan Liga 3 Nasional. PSSI memberikan penghargaan Wasit terbaik Liga 1 U18 dan Liga 1 Putri.

Bayu lantas tak jumawa. Ia harus menjaga integritas, kredibilitas dan kualitasnya selaku potensi Wasit Nasional Indonesia.

Beriringan dengan akademiknya. Gelar Sarjana S.I FIK UNP juga disandang. Masa depan tetap diperjuangkan. Aral dan rintangan di usia muda sedikitnya telah memperkuat ikhtiar dan tawakal pria berusia 24 tahun ini. Bersyukur dan tidak ingin lelah menjalani hidup.

 

“Tuah ayam nampak di kaki, Tuah manusia siapa tahu?”

Serupa tahun ini 2020 yang sudah memasuki pertengahan. Bayu juga terhempas di awal tahun. Harapannya untuk bertugas di kompetisi sepakbola profesional musim ini terpending. Gagal dalam seleksi di PSSI Pusat.

Lagi dan lagi, diterimanya dengan keikhlasan. Dan menyadari masih banyak kekurangan didalam dirinya. Itu wajib diperbaiki.

“Banyak hikmahnya. Mungkin belum rezeki tahun ini bertugas di Liga 2 Indonesia. Ini cara lain untuk memantapkan pengalaman dahulu di Liga Indonesia kategori usia musim ini,” tutur Bayi kepada bolabeten, Sabtu malam (7/6/2020).

Tapi, memang “Tuah ayam nampak di kaki, Tuah manusia siapa tahu?” benar peribahasa yang menggaris bawahi untung atau malangnya nasib tiada yang tahu.

Bayu justru dinyatakan satu-satunya peserta tes Calon Pegawai Negeri Sipil 2019 lalu yang SKD (Seleksi Kompetensi Dasar). Tinggal satu tahap akhir, SKB (Seleksi Kompetensi Bidang).

“Hikmah lainnya. Alhamdulillah, bisa lolos satu-satu SKD CPNS. Saat ini masih menunggu SKB. Kemungkinan Agustus kelanjutan ujiannya,” sebut Bayu.

Bayu tetap membumi. Di masa Pandemi Covid-19 sekarang, semua lini kehidupan serba tak menentu. Serupa kompetisi PSSI yang mati suri. Begitu pula kelanjutan penerimaan CPNS.

Sambil menunggu kelanjutan CPNS. Ia berlatih mandiri di kampung untu menjaga konsistensi kelangsungan karir wasitnya.

“Karir wasit pasti lanjut. Kini saya masih berlatih untuk menunggu kompetisi PSSI dimulai supaya kegagalan tes Liga 2 kemaren itu tidak terulang,” tukasnya.

Hidup menyoal perjuangan. Perjalanannya masih panjang. Terhempas jatuh, bangkit dan gelak tertawa telah warnai masa kanak-kanak, remaja dan muda Bayu. Masih dan masih banyak rintangan untuknya. Survival dan survivor. BE SUCCES BAYU !

BIODATA
Nama : Bayu Pratama
Tempat/Tgl Lahir : Koto Baru/21 Januari 1996
Pendidikan : S.I FIK UNP

Lisensi Wasit:
C3 : 2017
C2 : 2017
C1 : 2019
Premier Skills Referee Development Level 2

Karir Wasit:
Liga 1 U16
Liga 1 U18
Liga 1 U20
Liga 1 Putri
Liga 3 Nasional

Prestasi Wasit:
Wasit Terbaik Liga 1 U18
Wasit Terbaik Liga 1 Putri

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Liga 1 dan Liga 2 Bergulir, Nasib Liga 3 Indonesia 2020 Masih Di Awang Awang

Jadwal PPD 2022 zona Asia dirilis AFC, PSSI Segera Siapkan Tim Nasional Senior Indonesia