in

20 Tahun Journalist Journey: DNA Sepakbola dan Berkelana di 29 Stadion di Indonesia


Oleh: Rizal Marajo

“2020, tak terasa sudah genap 20 tahun saya bergelut dengan dunia jurnalistik. Selama itu, tak pernah bergeser dari liputan olahraga. Mungkin saya terlahir dengan “DNA” olahraga, khususnya sepakbola” 

Jurnalistik, dunia yang sesungguhnya “tidak asing” bagi saya sejak masih usia Sekolah Dasar. Faktor ayah yang berlanggganan koran ‘Haluan”, membuat saya satu dari sedikit anak kampung yang akrab dengan suratkabar. Kegemaran melahap isi koran pun dimulai. “Anehnya” selalu halaman olahraga yang selalu dikejar pertama kali.

Ketika kuliah di Fakultas Sastra Unand, minat pada koran makin subur, tak lagi jadi pembaca tapi ingin jadi pembuat berita atau artikel. Apalagi ilmu sejarah yang digeluti paralel dan mirip dengan dunia jurnalistik. Ada penelitian, investigasi, wawancara, bibliografi, data dan fakta, dan dituangkan dalam tulisan.

Namun, hasrat ingin terjun ke dunia idaman itu selalu terbentur tembok tebal. Takut memulai! Ada rasa tidak percaya diri, misalnya menulis sebuah artikel untuk coba dimasukan ke koran-koran daerah. Akibatnya, hasrat itu hanya terpendam begitu saja, bertahun-tahun lamanya.

Akhirnya!
“Anda wartawan,”tanya salah seorang dosen penguji skripsi saya, ketika disidang dalam ujian akhir demi mendapatkan gelar sarjana tahun 1998 akhir. Sang dosen memberi catatan tebal-tebal, bahwa skripsi saya bukan karya ilmiah, karena: Bahasa koran!

Namun, tanpa disadari itulah awal yang memberi jalan dan spirit. Setelah dinyatakan lulus sidang dengan nilai A, saat menyalami para dosen penguji, salah satu dari mereka, alm Drs. Fathurahman, M.Hum, mengatakan sesuatu yang tak terlupakan: “Anda berbakat jadi wartawan, tidak ada salahnya Anda coba, semoga bisa.”

Celakanya, baru setahun kemudian saya berani mencoba bergabung dengan Harian “Singgalang” dengan status magang. Hari pertama di lantai III Veteran 17 Padang, Pimred alm Darlis Sofyan langsung “menggertak” dengan berondongan pertanyaan. “Bisa bahasa Inggris, bisa komputer, dan minat Anda di bidang apa?

“Bisa, saya ingin olahraga,”jawab saya tegas. Saya pilih olahraga karena minat saya memang kesana. Saya pelahap tabloid olahraga ibukota semasa kuliah. Dua kali seminggu wajib dibeli, walau sangu pas-pasan dan logistik sehari-hari lebih banyak ditanggulangi dengan mie instan.

Hari pertama mencari berita, walaupun ada rasa kecut, tapi hari itu saya merasa tembok tinggi dan tebal yang menghalangi saya runtuh sudah. Berita pertama saya wawancara dengan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan FIK, DR. Phil. Yanuar Kiram, tentang olahraga Sumatra Barat jelang PON 2000, berjalan mulus.

Masih berantakan, saya belum tahu rumus wajib bikin berita 5 W + 1 H itu. Maklum saya mulai segalanya di hari pertama dari titik nol…benar-benar nol. Tapi tak terlalu mengecewakan, terima kasih untuk Mas Hartono, redaktur olahraga yang telah membaca berita pertama saya, memperbaikinya, dan menurunkannya. Pagi-pagi saya melihat hasil kerja di hari pertama itu terpampang di koran. Sebuah perasaan tak terlukiskan. Berita pertama itu, masih saya simpan dalam sebuah album kliping saya.

Hari-hari berikutnya adalah hari yang enjoy, beragam pengalaman muncul dan berganti setiap hari. Bertemu dengan bermacam orang, semakin memacu semangat. Makin banyak pengalaman baru di dapat selama diberi tugas peliputan.

Meliput dan terjun langsung berarung jeram di Batang Kuantan, adalah salah satu pengalaman paling mendebarkan di awal jadi wartawan. Seperahu karet dengan selebritis macam Adjie Massaid, Sitta Tanjung, Teuku Ryan, serta dedengkot arung jeram “Arus Liar” dari Citarik, Lody Korua, memang sulit terlupakan.

Bukan soal faktor selebritas mereka, tapi kami sama-sama terguling dan terpental-pental saat perahu itu terbalik di jeram Sipalukahan yang kondang itu. Jeram ganas dengan tingkat kesulitan grade IV. Beruntung tim safety bekerja sigap, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan di tengah palunan menakutkan arus liar Batang Kuantan.

Waktu berganti, hari-hari pun berlalu. Ajang sepakbola Euro 2000 di Belgia dan Belanda, menjadi salah satu tonggak penting perjalanan karir saya di Singgalang. Bagaimana tidak, saya menjadi wartawan magang pertama yang dipercaya jadi redaktur. Entah ini pernah terjadi di dunia jurnalistik, saya tak tahu.

Saat itu, redaktur olahraga alm Mas Hartono ditugaskan meliput PON 2000 Surabaya. Saya satu-satunya “orang” olahraga yang ada di kantor, itupun berstatus wartawan “icak-icak” yang sedang belajar. Tapi Pimred Darlis percaya, dengan pengetahuan, referensi, dan kegilaan pada olahraga, gaya menulis yang makin terasah, dan mau bertanya pada senior, tugas “berat” itu bisa saya jawab.

Tidak sia-sia, ada ‘bonus” manis dari kerja keras selama satu bulan itu, yakni SK sebagai karyawan tetap di Singgalang . Saya masuk 20 Januari, diangkat jadi karyawan organik 1 Juli, sebuah rekor baru untuk calon wartawan yang magang di koran ini.

Karir pun semakin “melambung-lambung”, September saya diangkat jadi redaktur tetap, menangani halaman olahraga edisi minggu, yang tampil beda dengan halaman olahraga harian. Tugas inipun berjalan lancar, dengan trade mark halaman: “sepak pojok”, yang saya tulis dengan bahasa ringan dan kocak, tapi terasa mencubit.

Euro 2004, juga menjadi pilar penting. Saya ditugaskan fokus menggarap dua halaman khusus alek sepakbola benua biru itu. Saya benar-benar total, sehingga halaman saya benar-benar tampil beda. Jauh lari dari wajah Singgalang sebelumnya. Banyak inovasi dan kreatifitas yang saya muntahkan di halaman itu.

Ini menjadi perhatian Mr. Darlis, dia ingin Singgalang seperti wajah olahraga. Mau tak mau, untuk permak wajah tentu saya yang ditunjuk sebagai “dokter bedah”-nya. Walaupun hanya bermodalkan ide, teknisnya dilakukan oleh rekan-rekan di pra cetak. Tapi setidaknya saya berhasil lagi menjawab tantangan Darlis.

Buntutnya, jabatan pun bertambah jadi Redaktur Tata Wajah (TW). Hanya saja, itu bukan dunia saya. Saya tak menikmati peran baru ini. Terlebih dalam tugas jurnalistik, saya dilempar ke halaman daerah, berita internasional dan menggawangi edisi minggu.

Nurani saya pun menjerit, ingin kembali ke olahraga. “Please boss , darah saya “O”, bukan “D” atau “I”, apalagi “TW”.”jerit hati saya. Untungnya, petinggi mengerti itu. Moment Piala Dunia 2006 menjadi selebrasi kembalinya saya ke dunia olahraga.

**********

Di luar tugas di belakang meja, tugas ke luar daerah juga menjadi bagian perjalanan karir. Sebagai wartawan olahraga yang sangat menikmati dunia itu, saya hanya merasakan suka, duka boleh dikatakan sangat minimalis.

“Tour of Duty” atau tugas luar daerah seperti meliput PON XIV di Palembang, PON 2012, dan PON 2016, plus Porwil 2007 di Medan, adalah tugas-tugas meliput ajang multi iven.

Melelahkan memang, berpacu dengan waktu, bersaing dengan rekan media lain untuk memberikan liputan terbaik untuk Singgalang . Ini jelas sangat menantang. Untuk hal ini saya tak sombong, terbukti saya dapat “bonus” khusus dari KONI Sumbar sebagai liputan media terbaik.

Sebuah apresiasi lagi, saya dipilih sebagai wartawan olahraga terbaik Sumbar tahun 2006. Dua hal itu cukup merangsang saya untuk berani mengatakan, wartawan olahraga adalah pilihan pertama dan terakhir saya berkecimpung di dunia jurnalistik ini.

Tur bersama tim bola Semen Padang ke berbagai kota juga menjadi pengalaman yang menarik. Mei 2001, adalah tur pertama bersama Semen Padang. Selama 20 hari berkelana di lima kota, Jakarta, Bogor, Bandar Lampung dan Pekanbaru. Lucunya, saya terus jadi bahan canda anggota tim selama tiga pekan itu.

Bukan apa-apa, seminggu sebelumnya saya baru saja melangsungkan pernikahan. “Aduh, pimpinan Anda kok tega sekali, masa pengantin baru disuruh bertugas selama itu,”guyon manejer tim Hamdan Anwar.

Di luar itu semua, tahun berikutnya masih dalam rangka tur bersama Semen padang Fc, saya ikut merasakan bagaimana rasanya diteror suporter tuan rumah, dilempari batu, botol dan sapu lidi di Stadion Siliwangi Bandung.

Hal yang sama didapatkan di Stadion Andi Mattalata Makassar, bahkan lebih seram. Selama 90 menit duduk di bench pemain cadangan Semen Padang, selama itu pula “berketuntang” batu dan botol minuman yang sudah di isi ulang dengan air kencing menghantam atap fiber glass bench, sampai atap bench itu jebol. Ujung-ujungnya, kami di sandera di lapangan, dua jam usai laga baru bisa keluar stadion dengan pengawalan ketat aparat keamanan.

Namun pengalaman manis dan bersahabat justru saya dapatkan saat tur ke Jayapura tahun 2003. Ini tugas sangat spesial, karena boleh dikatakan saya satu dari sedikit wartawan Singgalang yang berkesempatan menginjak tanah paling timur Indonesia itu.

Delapan jam terbang, termasuk melewati kawasan “blank” di atas pegunungan Jayawijaya dari Timika ke Jayapura, menjadi pengalaman naik pesawat paling mendebarkan. Burung besi itu tak henti berguncang hebat di tengah palunan kabut tebal. Saya dan para pemain baru “berdarah” lagi setelah “Merpati” itu mendarat mulus di Sentani Jayapura.

Ketegangan di udara itu juga terbayar lunas ketika berada di Stadion Mandala Jayapura. Walaupun tim Semen Padang sukses mengalahkan tuan rumah Persipura waktu itu, namun sikap penonton Jayapura sungguh membuat saya terkesan.

Biasanya di sepakbola Indonesia, jika tuan rumah kalah, suporternya mengamuk pada tim tamu. Tapi di Papua tidak, Semen Padang justru diberi tepuk tangan, acungan jempol, dan aplaus panjang seusai pertandingan.

Bahkan, sepanjang perjalanan menuju hotel Yasmin di pusat kota, tak henti-henti tepuk tangan penonton Jayapura dan acungan jempol diberikan kepada tim SP yang sudah berada dalam bus. Situasi ini membuat kami tak perlu tiarap dalam bus takut dilempari batu, seperti pengalaman di Bandung atau Makassar.

Di atas semua itu, pengalaman paling berkesan selama menjadi wartawan olahraga Singgalang adalah saat menjadi salah satu juri Bintang emas Copa Dji Sam Soe selama dua periode, 2008-2009. Dalam forum ini, saya bangga membawa bendera Singgalang , sebagai satu-satunya media yang diundang di Sumatra Barat. Saya bergabung dengan 32 wartawan olahraga terbaik dari seluruh Indonesia untuk memilih pemain yang berhak jadi pemain terbaik Bintang Emas.

Proses pemilihan itu enam bulan, harus melalui beberapa kali rapat di Jakarta. Dalam setiap periode itu, kami yang dari daerah harus bolak-balik ke Jakarta sebanyak tujuh kali. Saya tentunya bolak-balik Padang-Jakarta, berangkat jam 9 pagi, jam 8 malam sudah di Padang lagi.

Paling seru adalah rapat itu sendiri, dimana kami harus beradu argumentasi, mengadu data, serta berani memunculkan referensi yang tepat dan lengkap. Terkadang, muncul perdebatan yang sengit, tapi pada akhirnya semuanya berjalan demokratis.

Puncaknya adalah malam anugrah penyerahan hadiah Bintang emas. Itu yang paling lucu, ketika kami menjadi “bintang” di acara tersebut. Kami didandani ala selebriti, diwajibkan pakai jas dan disuguhi tetek bengek aturan berkelas elit lainnya. Maklum tempatnya adalah Ball Room Hotel Mulia Jakarta.

Pakai jas adalah hal yang paling menggelikan bagi saya, karena selama ini pakaian kebesaran saya sebagai wartawan olahraga adalah jeans sobek-sobek dan kaos oblong. Pakai Jas dan dasi malam itu, adalah kali kedua sepanjang hayat saya. Pertama waktu menikah dulu.

Bagian lain dari tugas sebagai juri itu, saya juga berkesempatan dua kali meliput final Copa Indonesia yang selalu berjalan dramatis. Pertama final 2008 di Stadion Gelora Bung Karno dan kedua di Stadion Jakabaring Palembang tahun berikutnya.

Meliput di Stadion Gelora Bung Karno, adalah pengalaman baru. Di sini saya merasakan bagaimana seharusnya wartawan olahraga itu bertugas. Duduk di tribun VIP, dilayani, diberi fasiltas lengkap, meja kerja yang nyaman, listrik untuk laptop dan HP, fasilitas wi-fi. Seusai laga, hal yang benar-benar baru adalah merasakan “mixed zone” .

Kita dikurung di sebuah zone melingkar-lingkar yang akan dilewati pemain menuju kamar ganti. Wawancara dilakukan dengan pemain yang sedang berjalan. Walau yang bisa dilontarkan hanya satu atau dua pertanyaan tapi itu sangat menarik. Disini kita bisa menilai karakter pemain, cerdas atau bodoh, sombong atau ramah, alergi atau tidak pada pers dan sebagainya. Karena ada kalanya pemain itu tak mengacuhkan pertanyaan wartawan.

Singkat cerita, berkelana dari satu stadion ke stadion lain di Nusantara sepanjang 20 tahun adalah pengalaman unik juga, Dalam catatan saya, diluar stadion-stadion di Sumbar, saya sudah mengunjungi 29 stadion yang ada di Indonesia.

Seperti beberapa yang sudah disinggung diatas. memang banyak kisah menarik yang didapatkan. Misalnya saat menjadi saksi lolosnya Semen Padang FC dengan dramatis ke ISL 2010 di Manahan Solo. Itulah pertama kali Semen Padang lolos ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia, bertepatan dengan kampanye 100 tahun PT. Semen Padang.

Ada juga kisah pilu di Stadion Kanjuruhan Malang leg 2 Piala Presiden 2017, dimana keunggulan 2-0 Semen Padang, dibalas lima gol Christian Gonzales, yang membuat “Kabau Sirah” gagal lolos ke final. menyesakan dada.

Namun, disitu pula saya melihat perbedaan wartawan Padang dan Malang. Kalau di Padang, wartawannya juga bertindak sebagai suporter tim, dan paling heboh berteriak-teriak di meja khusus pers, di Malang mereka semuanya diam dan seksama fokus mengikuti jalannya pada pertandingan, tak peduli hasil. Mereka biasa-biasa saja melihat Arema dengan luar biasa membalikan keadaan defisit tiga gol melalui lima gol “El Loco”. Tak ada reaksi berlebihan.

Epilog
Sebagai wartawan olahraga, ada dua catatan penting yang ingin saya tuliskan. Pertama, saya masih ingin memberikan informasi-informasi terbaik kepada publik melalui tulisan-tulisan saya. Karena bagi seorang wartawan, tak ada kata untuk berhenti menulis. Media boleh berganti, tapi pena harus tetap bergerak menuliskan banyak kisah.

Kedua, sejujurnya saya teramat takut kalau api dan bara jurnalistik itu padam perlahan-lahan seperti lilin ditiup angin. Sejatinya jika itu terjadi, maka sama artinya karir jurnalistik anda sudah berakhir juga. Pastinya sebagai wartawan olahraga saya pun tak punya sesuatu yang bisa saya ceritakan dan banggakan pada anak cucu saya kelak.

Salam (*)

20 Tahun, Dari Stadion ke Stadion

01. Stadion Kuta Asan, Sigli (PSAP Sigli vs Semen Padang, 2010)
02. Stadion Cot Gapu, Bireuen (PSSB Bireun vs Semen Padang, 2010)
03. Stadion Teladan, Medan (Opening Ceremony Porwil Sumatra 2007)
04, Stadion Baharoeddin Siregar, Lubuk Pakam (PSDS  vs Semen Padang, 2007)
05. Stadion Kaharudin Siregar, Rumbai (PSPS  vs Semen Padang 2001, 2018)
06. Stadion Utama Riau, Pekanbaru (Opening Ceremony PON 2012)
07. Stadion Temenggung Abdul Jamal, Batam (Pomnas 2011)
08. Stadion Bumi Sriwijaya, Palembang (Training team Final Copa Dji Sam Soe 2009)
09. Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang (Final Copa Dji Sam Soe , OC PON 2004)
10. Stadion Pahoman, Bandar Lampung (PSBL Bandar lampung vs Semen Padang)
11. Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, Bandar Lampung (Training Semen Padang FC)
12. Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (Final Copa Dji Sam Soe, 2010)
13. Stadion Bea Cukai Rawamangun, Jakarta (Persijatim vs Semen Padang 2001)
14. Stadion Pakansari, Cibinong (Final PJS 2015)
15. Stadion Benteng, Tangerang (Persikota vs Semen Padang 2000, Persita Semen Padang 2002)
16. Stadion Padjajaran, Bogor (Persikabo vs Semen Padang, 2000)
17. Stadion Singa Perbangsa, Karawang (Persita Tangerang vs Semen Padang, 2014)
18. Stadion Siliwangi, Bandung (Persib vs Semen Padang, 2002)
19. Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung (OC PON 2016)
20. Stadion Jati Diri, Semarang (PSIS Semarang vs Semen Padang, 2007)
21. Stadion Manahan, Solo (4 Besar Divisi Utama 2009, Persija Jakarta vs Semen Padang 2011)
22. Stadion Surajaya, Lamongan (Persela vs Semen Padang 2007)
23. Stadion Kanjuruhan, Malang (Semifinal Piala Presiden 2016)
24. Stadion Tambaksari, Surabaya (Persebaya vs Semen Padang 2004)
25, Stadion Tri Darma, Gresik (Petrokimia Putra vs Semen Padang, 2003
26. Stadion Segiri, Samarinda (PON 2008)
27. Stadion I Wayan dipta, Gianyar (PJS 2015)
28. Stadion Mattoanging, Makassar (PSM Makassar vs Semen Padang, 2003)
29. Stadion Mandala, Jayapura (Persipura Jayapura vs Semen Padang, 2003)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Masih Bagalau, Liga 1 Bisa Berubah Format Bila Izin Kepolisian Kembali Tidak Keluar

Tahu kekuatan lawan, Beckham Putra cs diminta tingkatkan fokus di laga kedua kontra Makedonia Utara