in ,

Obituary Djoko Santoso: Duka Mendalam Dunia Bulutangkis Indonesia

Cipayung, bolabeten – Kabar duka menyelimuti Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Mantan Ketua Umum PBSI periode 2008-2012, Jendral (Purn) Djoko Santoso meninggal dunia, Minggu (10/5).

Djoko Santoso, yang juga pernah menjabat Panglima TNI, meninggal pada usia 67 tahun pukul 06.30 di RSPAD Gatot Subroto. Ketua Umum PBSI Wiranto menyebut keluarga besar induk cabang olahraga bulutangkis itu sangat kehilangan atas wafatnya Djoko Santoso.

“Keluarga besar PBSI sangat kehilangan sosok yang telah banyak berjasa bagi perkembangan bulutangkis Indonesia,” kata Wiranto.

“Sepanjang masa baktinya memimpin PBSI, beliau tak pernah lelah untuk terus berupaya memajukan prestasi bulutangkis. Selepas masa jabatannya pun, beliau masih terus memberikan perhatian dan dukungan untuk bulutangkis,” tambahnya.

Semasa menjabat ketum PBSI, Djoko Santoso berhasil membawa para pebulutangkis Indonesia meraih berbagai gelar juara. Diantaranya, meraih medali emas Asian Games 2010 melalui pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Markis Kido.

Serta gelar juara All England 2012 melalui ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Usai masa baktinya selesai pada 2012, Djoko Santoso masih aktif berkecimpung membantu dunia bulutangkis Indonesia. Ia merupakan anggota Dewan Kehormatan PP PBSI masa bakti 2016-2020 bersama Try Sutrisno, Soerjadi, Subagyo Hadisiswoyo, Chairul Tanjung dan Sutiyoso.

“Selamat jalan Pak Djoko Santoso, kami segenap keluarga besar PBSI mendoakan semoga arwah beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun telah tiada, namun semangat juang beliau akan terus ada bersama kita semua,” tandasnya

Sementara, pemain ganda campuran Tontowi Ahmad menyebut, Karier cemerlang yang diraihnya tak lepas dari kepemimpinan mendiang Djoko Santoso saat masih menjabat sebagai Ketua Umum PBSI di tahun 2008 hingga 2012.

Di era itulah, Tontowi Ahmad mendapat kesempatan berduet dengan Liliyana Natsir, atlet putri bertalenta yang kala itu berstatus ganda campuran nomor satu dunia bersama Nova Widianto.

Tontowi mulai dipasangkan dengan Butet–sapaan akrab Liliyana–pada medio 2010, tepatnya pada 27 Juli di Makau Open. Duet itu pada akhirnya tampil dahsyat dengan meraih berbagai gelar juara, termasuk medali emas Olimpiade 2016, sebelum Liliyana pensiun awal 2019 lalu.

Dalam periode kepemimpinan Djoko Santoso, duet Tontowi/Liliyana berhasil meraih berbagai gelar seperti Makau Open (2010, 2011), Chinese Taipei Open (2010-2012), Indonesia Masters (2010, 2011), hingga yang paling bergengsi yakni All England 2012.

Setelah masa kepemimpinannya habis pada 2012, mendiang Djoko Santoso digantikan oleh sosok pengusahan sekaligus politikus Gita Wirjawan.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Setelah Delapan musim bersama Semen Padang FC, Jandia Eka Putra Betah di PSIS Semarang

Inspirasi: Islam dan Sikap Hati-hati Zinedine Zidane