in ,

Aprilia Manganang, Mantan Pemain Bolavoli Putri Timnas Indonesia yang Dinyatakan Laki-laki

Jakarta, bolabeten – Kabar mengejutkan datang dari mantan pemain tim nasional voli putri Indonesia, Aprilia Manganang, yang dinyatakan berjenis kelamin laki-laki.

Aprilia Manganang menjadi salah satu bintang voli nasional, dan menjadi sorotan setelah berhasil membawa timnas voli putri Indonesia melaju hingga babak delapan besar pada Asian Games 2018.

Tim putri Indonesia mencatat prestasi terbaik di Asian Games sejak lebih dari tiga dekade terakhir dengan berada di peringkat ketujuh.

Prestasi tinggi di dunia voli membuat Aprilia mendapat tawaran langsung untuk menjalani tugas di satuan TNI. Aprilia sudah menjadi prajurit TNI AD wanita atau Kowad.

Selain prestasi yang menonjol, pemain yang berposisi sebagai spiker ini juga dikenal karena penampilan yang tomboi dibanding rekan-rekan setimnya.

Perawakan Aprilia Manganang yang terlihat seperti laki-laki rupanya bukan karena penampilan yang tomboi semata.

Aprilia Manganang diketahui merupakan laki-laki tulen setelah menjalani pemeriksaan di RSPAD Gatot Subroto sejak 3 Februari lalu.

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI, Andika Perkasa, mengatakan Aprilia mengalami kelainan yang disebut hipospadia.

“Sersan Manganang ini bukan transgender, bukan juga interseks. Tidak masuk dalam kategori itu semua,” kata Andika Perkasa di Mabes AD dalam konferensi pers, Selasa (9/3) malam.

“Saya tahu definisinya dan tim dokter pun tahu semua definisinya. Karena memang kelainan yang dialami adalah hipospadia. Jadi selalu kembalikan ke situ,” imbuhnya.

Aprilia direncanakan akan melakukan penanganan medis dan operasi (corrective surgery). Pemain yang pernah menyabet gelar juara Proliga sebanyak empat kali tersebut akan menjalani operasi sebanyak dua kali.

Operasi pertama telah berjalan sukses. Aprilia akan kembali naik ke meja operasi untuk kedua kalinya sebagai proses terakhir.

Andika Perkasa menuturkan bahwa Aprilia Manganang sangat antusias ketika mendengar akan mendapat penanganan medis untuk perubahan jenis kelaminnya.

Aprilia Manganang sendiri telah memutuskan pensiun dari voli. Keputusan tersebut Aprilia umumkan pada September lalu.

Lantas, apa itu hipospadia?
Mengenal hipospadia Dilansir dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), hipospadia adalah cacat sejak lahir pada anak laki-laki di mana pembukaan uretra tidak terletak di ujung penis.

Pada anak laki-laki yang mengidap hipospadia, uretra terbentuk secara tidak normal selama minggu ke 8-14 kehamilan. Pembukaan abnormal dapat terbentuk di mana saja dari tepat di bawah ujung penis hingga skrotum.

Selain berbeda lokasi bukaan uretra, kelainan penis ini ada yang sifatnya ringan sampai parah. Jenis hipospadia yang dimiliki anak laki-laki tergantung pada lokasi pembukaan uretra:

– Subkoronal: Pembukaan uretra terletak di suatu tempat di dekat kepala penis – Poros tengah: Pembukaan uretra terletak di sepanjang batang penis – Penoscrotal: Pembukaan uretra terletak di tempat pertemuan penis dan skrotum.

Anak laki-laki pengidap hipospadia terkadang memiliki penis yang melengkung. Akibat letak lubang kencing yang tidak normal, anak dengan hipospadia akan memiliki masalah dengan percikan urin yang tidak normal, dan mungkin harus duduk untuk buang air kecil.

Pada beberapa anak laki-laki dengan hipospadia, testis belum sepenuhnya turun ke dalam skrotum. Jika hipospadia tidak ditangani dapat menyebabkan masalah di kemudian hari, seperti kesulitan melakukan hubungan seksual atau kesulitan buang air kecil saat berdiri.

Penyebab dan faktor risiko Penyebab pasti hipospadia pada kebanyakan bayi tidak dapat diketahui. Yang jelas, hipospadia ini terjadi di dalam kandungan. Saat penis berkembang pada janin laki-laki, hormon tertentu merangsang pembentukan uretra dan kulup.

Nah, hipospadia terjadi ketika ada kerusakan pada hormon-hormon tersebut yang menyebabkan uretra tidak berkembang dengan normal. Dalam kebanyakan kasus, hipospadia dianggap disebabkan oleh kombinasi gen dan faktor lain, seperti lingkungan ibu, atau makanan atau minuman ibu, atau obat-obatan tertentu yang dikonsumsi selama kehamilan.

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti CDC telah melaporkan temuan penting tentang beberapa faktor yang mempengaruhi risiko memiliki bayi laki-laki dengan hipospadia. Apa saja?

Sejarah keluarga: Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi dengan riwayat keluarga hipospadia.
Ibu yang berusia 35 tahun atau lebih dan dianggap obesitas memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan hipospadia.
Selain itu, perempuan yang menggunakan teknologi reproduksi untuk membantu kehamilan memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan hipospadia.
Wanita yang mengonsumsi hormon tertentu sebelum atau selama kehamilan juga terbukti memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan hipospadia. Hipospadia biasanya didiagnosis selama pemeriksaan fisik setelah bayi lahir.

Perawatan Perawatan untuk hipospadia tergantung pada jenis cacat yang dimiliki anak laki-laki tersebut. Sebagian besar kasus hipospadia memerlukan pembedahan. Jika diperlukan pembedahan, biasanya dilakukan saat anak laki-laki berusia antara 3-18 bulan.

Dalam beberapa kasus, pembedahan dilakukan secara bertahap. Tindakan yang dilakukan dalam operasi bisa saja termasuk menempatkan uretra di tempat yang tepat, memperbaiki lekukan di penis, dan memperbaiki kulit di sekitar pembukaan uretra.

Karena dokter mungkin perlu menggunakan kulup untuk melakukan tindakan koreksi, bayi laki-laki dengan hipospadia sebaiknya tidak disunat. Apabila hipospadia tidak segera diobati, maka akan menyebabkan:

– Penampilan penis yang tidak normal
– Masalah belajar menggunakan toilet
– Kelengkungan penis yang tidak normal dengan ereksi
– Masalah dengan gangguan ejakulasi.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Semen Padang FC Belum Jalin Komunikasi dengan Eduardo Almeida

LIB ungkap kronologis batalnya Persipura ikut Piala Menpora 2021