in ,

Tak Sampai 48 Jam, Selamat Datang di Lapangan Gumarang 

Penulis: Rizal Marajo

SABTU, 27 Februari 2021, Lapangan sepakbola Gumarang, di jantung Kota Batusangkar agak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Lapangan yang biasanya sepi dari aktifitas sepakbola sejak pandemi, sore itu ramai.

Bahkan ada pertandingan ujicoba, dan dari tribun yang selama ini senyap, kembali terdengar sorak-sorai penonton disana. Sepertinya orang-orang itu sudah haus akan sebuah tontonan sepakbola. Apakah sepakbola sudah hidup normal lagi di Luhak Nan Tuo?

Diatas tribun, duduk sejumlah nama-nama besar di sepakbola Sumbar, bahkan nasional. Ada Mantan pelatih Semen Padang FC yang kini pelatih Mitra Kukar, Jafri Sastra. Dan, ada juga duet Pelatih Semen Padang FC Weliansyah dan Hendra Susila. Terdapat pula pelatih berbakat, Yulian Syahreva dan duo legend PSBS Batusangkar era 1980-an, Aprius dan I Made Safari Udayana.

Puncaknya, saat jam menunjukkan pukul 17.30 WIB, Bupati Tanah Datar, Eka Putra, tiba-tiba muncul di lapangan. Pria yang sehari sebelumnya baru dilantik jadi Bupati, tak sampai 48 jam ternyata sudah hadir di lapangan sepakbola.

Barangkali sejawatnya dari kabupaten/kota lain yang sama-sama dilantik, belum ada berfikir atau membayangkan akan menjejakan kakinya di lapangan sepakbola.

Ketika Bupati, dan orang-orang kompeten di sepakbola seperti Jafri Sastra, Weliansyah dan kawan-kawan itu hadir di saat bersamaan di lapangan Gumarang, tentunya ada sesuatu yang sedang terjadi, minimal ada yang sedang direncanakan untuk sebuah kalimat, kemajuan sepakbola di Tanah Datar.

Mari berkilas balik sejenak, sejarah mencatat, Batusangkar atau Tanah Datar umumnya, sejak era 1970-1990 an, adalah salah satu daerah yang menjadi barometer sepakbola Sumatra Barat, selain Kota Padang dan Payakumbuh. Salah satu patokannya adalah menghasilkan pemain-pemain berkualitas.

Walau sejak awal milenium nama besar Tanah Datar dengan PSBS Batusangkar-nya di sepakbola Sumbar mulai tergerus dan redup, saat daerah lain justru terus menunjukkan progres bagus pembinaan mereka, seperti Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Sijunjung, Kota Sawahlunto, bahkan Pasaman Barat.

Padahal dulu, banyak pemain-pemain top di setiap generasi yang dihasilkan Tanah Datar, sebut saja mulai dari Anas Bintang, Asril Etek, Aprius, sampai generasi Rommy Diaz Putra, Hengki Ardiles, Dicky Jamalis, dan saat ini ada Irsyad Maulana.

Ingin mengembalikan kharisma Tanah Datar sebagai salah satu Kabupaten/Kota penghasil talenta hebat sepakbola, sepertinya adalah “balok start” dari keramaian Lapangan Gumarang sore itu.

Sepakbola hari ini adalah masalah sport science, talent scouting, pembinaan berjenjang, dan membutuhkan sebuah muara. Tidak jamannya lagi mengharapkan lahir pemain alami, otodidak, atau pemain yang “dihadiahkan” Tuhan dengan bakat luar biasanya,

Ketika orang kompeten di sepakbola datang dengan idenya dan membawa ilmu teranyar sepakbolanya, disambut  oleh penguasa sang pengambil kebijakan, ketika itulah sepakbola punya harapan hidup lagi mengikuti zamannya.

Tanah Datar dan dunia bal-balannya, saatnya menyadari bahwa sepakbola hari tak lagi sekedar menendang bola, mencetak gol, soal menang atau kalah, atau bagaimana menciptakan pemain sepakbola yang hebat sebanyak mungkin.

Sepakbola hari ini adalah sabuah pendidikan yang dibutuhkan oleh generasi muda. Sepakbola adalah alat pembentukan karakter dan mental anak-anak muda. Melalui pendidikan sepakbola, tak hanya akan dihasilkan pemain yang bola yang hanya berbicara tentang teknis, skill, dan bakat sepakbola belaka.

Tetapi juga berbicara tentang sosok-sosok berkarakter, disiplin, pekerja keras, bermental baja, dan mampu bekerjasama. Maka, Akademi sepakbola yang representatif, terukur, terencana, adalah sebuah jawaban bagi Tanah Datar.

Selaras dengan program Eka Putra sebagai Bupati anyar yang sangat gencar dengan program pembangunan generasi muda, baik melalui program pendidikan keagamaan seperti Tahfiz dan program keagamaan lain untuk generasi muda. Juga pentingnya pendidikan formal dan keilmuan yang menjadi prioritas program ke depan.

Jika tiga hal ini dipadukan, tentunya akan menjadi masa depan cerah bagi generasi muda Tanah Datar. Bagimana tidak, ketika kepala mereka sudah diisi dengan ilmu, dada mereka dipenuhi iman dan sisi religius, sementara mental mereka ditempa dengan disiplin dan karakter kuat seorang atlet.

Well, Lapangan Gumarang sore itu,
Sepakbola hari ini tak hanya bicara taktikal dan strategi. Jangan berfikir dulu berapa banyak pemain hebat yang akan dihasilkan. Tapi yang terpenting, adalah bagaimana  sebanyak mungkin mencetak anak-anak muda berkualitas dari sebuah pendidikan sepakbola.

Minimal, menciptakan anak-anak muda yang tak lagi melempar tas dan sepatu seanaknya pulang sekolah, karena mereka sudah diajarkan bagaimana berdisiplin diri di sepakbola.

Juga akan dihasilkan anak-anak muda yang tak lagi suka melawan kepada orang tua, karena di sepakbola ditanamkan rasa respect dan dan bagaimana pentingnya sebuah attitude yang baik.

Juga akan didapatkan remaja-remaja yang jauh dari narkoba, suka keluyuran, atau bertanggang hingga Subuh, karena di sepakbola diajarkan bagaimana tanggungjawab terhadap diri dan masa depan mereka.

Sulitkah bagi Tanah Datar?
Sebenarnya tidak. Mungkin hanya tinggal menunggu sebuah instruksi, “lampu hijau” dan sebuah tanda tangan dari sang Bupati yang sudah membuka ruang selebar-lebarnya untuk olahraga. Maka Tanah Datar akan punya sebuah Akademi sepakbola yang bisa menjadi muara anak-anak Tanah Datar yang tengah merajut asa, impian, dan masa depan di sepakbola.

Selamat Datang di Lapangan Gumarang, Pak Bupati.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Lanjutkan Eksistensi Pembinaan, SSB Saiyo Naungan Dispora Kota Solok Tampil di Padang Peduli U-12 tahun

Hingga Ini Keatas Siapkan Hidung! Puluhan Tes Antigen Menunggu Pemain Liga 1 di Piala Menpora 2021