in ,

Sosok: Weliansyah, Pengabdian Tanpa Batas untuk Semen Padang FC

Padang, Prokabar – Jika direntang daftar nama mantan pemain Semen Padang FC sepanjang masa, nama Weliansyah layak masuk daftar legenda hidup klub Ranah Minang. Sebagian kariernya dihabiskan mengabdi untuk klub kelahiran 30 November 1980 ini.

Ya, Weliansyah merupakan bagian Kabau Sirah, julukan Semen Padang Fc, sebagai pemain, pelatih, sekaligus karyawan perusahaan Semen Padang. Pelatih kelahiran 19 Januari 1966 ini mengenang momen indahnya saat masih menjadi pemain SPFC, sejak junior saat tampil di Piala Soeratin 1985.

Ketika itu, Weliansyah berkontribusi besar membawa Semen Padang FC U-19 menjadi juara Piala Soeratin U-19 1985. Selepas itu Welainsyah bergabung dengan tim senior dan menjadi bagian dari sejarah klub saat menjadi juara Piala Galatama 1992 dan tampil di Piala Winners Asia.

Dalam kompetisi itu, Semen Padang mampu lolos ke babak 16 besar. Setelah menyingkirkan klub Vietnam, Semen Padang kandas di tangan Yokohama Marinos. “Itu salah satu kenangan berkesan saya bersama Semen Padang FC,” kata Weliansyah.

Salah satu kenangan termanis Weliansyah, yang hingga kini tak terlupakan, adalah saat dirinya mencetak gol indah ke gawang Niac Mitra Surabaya pada musim 1989. “Jadi saat itu, kiper lawan membuang bola sampai setengah lapangan. Saat bola belum jatuh ke rumput, saya tendang voli lurus dan menjadi gol,” ucap Weliansyah.

“Semen Padang FC pada akhirnya menang dengan skor 4-1 dalam pertandingan tersebut,” Weliansyah mengenang kontribusinya.

Meski berposisi sebagai gelandang bertahan dan juga bisa menjadi stopper, Weliansyah memiliki naluri gol. Buktinya, setiap kompetisi ia selalu mencetak gol.”Alhamdulillah kadang menyumbangkan tiga gol, empat gol setiap kompetisi. Saya juga dulu sering dipercaya menjadi eksekutor tendangan penalti,” katanya.

Weliansyah juga terkenal sebagai pemain yang ganas menjegal lawan. Ia mengaku setiap pemain memiliki ciri khas masing-masing.

Weli, sapaannya mengatakan, hanya ingin menjadi gelandang bertahan yang kuat dan pekerja keras, meski secara teknik diakuinya tidak begitu luar biasa.

“Kalau dulu striker asing, striker lokal, seperti Bambang Pamungkas, Kurniawan, Santiago dan pemain lama lainnya Elly Idris, Rocky Putiray, sudah tahu karakter saya,” ucapnya.

Meski dianggap ganas, Weliansyah tidak pernah kurang ajar dan tidak pernah jahat dengan pemain lawan, karena prinsipnya hanya bekerja keras. “Sebagai seorang gelandang atau stopper, saya tidak suka dilewati pemain lawan. Kalau bola yang lewat, orangnya jangan,” katanya.

“Kalau orangnya lewat bolanya yang jangan. Sebagai seorang destroyer, demi pertahanan tim saya terkadang harus melakukan foul,” kata Weliansyah.

Sukses sebagai pemain, Weliansyah juga membuktikan kemampuannya dalam membesut skuat SPFC, yakni sebagai pelatih pada 2002. Ia pernah membawa Semen Padang FC U-15 ke delapan besar turnamen U-15 tahun 2002, dan membawa Semen Padang FC U-21 menjadi runner-up pada 2010-2011.

Pada 2013 bersama pelatih Sutan Harhara, ia membawa Timnas Indonesia U-16 menjadi runner-up Piala AFF U-16 di Myanmar. “Kami hanya kalah adu penalti melawan Myanmar,” ucapnya.

Weliansyah menjadi asisten pelatih Semen Padang FC pada 2005-2007, 2010, 2016, 2018 dan 2020. Pada 2019 Weliansyah sebentar menjadi pelatih kepala, saat menjadi pengganti Syafrianto Rusli di Liga 1.

Sayang, hanya beberapa pertandingan dia “terlempar” kembali ke kursi asisten, dengan kedatangan pelatih asal Portugal, Eduardo Almeida. Semen Padang tetap terdegradasi. Di musim 2020 untuk Liga 2, dipertahankannya Eduardo, membuat Weli tetap jadi asisten. “Mungkin suatu saat nanti saya ada kesempatan menjadi pelatih tim ini, dengan situasi dan kondisi, serta timing yang pas.”harap Weli.

Walau begitu, Weli tak mengeluhkan dimanapun posisinya dalam tim Semen Padang. Karena baginya, Semen Padang bukan sekadar klub, tapi adalah tempat pengabdiannya sebagai pelaku sepakbola. “Saya tak memikirkan dimana posisi saya, yang penting saya bisa berbuat untuk tim tim. Karena saya terlalu mencintai klub ini.”ujarnya suatu ketika.

Untuk soal orang yang berpengaruh dalam perjalanan karirnya, baik sebagai pemain ataupun pelatih, dia menyebut bebebrapa nama. “Untuk ilmu dan pengalaman menjadi pelatih, saya banyak juga belajar dari pak haji Suhatman Imam, Jenniwardin, dan juga Sutan Harhara,” ujarnya menyebut sosok-sosok yang dianggap sebagai gurunya.

Suhatman Imam merupakan legenda Sumatera Barat yang pernah ikut pra Olimpiade dan dinilainya penuh kharisma dan berkarakter keras. “Kalau Jenniwardin, beliau karakternya lebih kebapakan dan kekeluargaan. Kalau Sutan Harhara ilmu sepak bolanya saya akui,” Weliansyah menuturkan.

Terakhir, ia berpesan kepada para pemain sepak bola saat ini agar menjadi pesepakbola yang bertanggung jawab, punya rasa memiliki yang kuat terhadap tim. “Pemain sekarang memang sedikit beda dengan yang dulu. Kalau dulu yang dipikirkan bagaimana bisa masuk menjadi starter dan tidak mau jadi cadangan,”ia berpesan.

“Soal duit itu nomor dua. Saya berpesan agar pemain sepak bola saat ini, lebih disiplin dan bertanggung jawab,” Weliansyah memungkasi.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Ronaldo Saat Bergelimang Harta, Pesta, dan Wanita: Dengan Uang Anda Bisa Melakukan Apa Saja

Sudah Berusia 41 Tahun, Valentino Rossi Belum Mau Pensiun dan Masih Punya Mimpi di 2021