in ,

Sepakbola, Pakai Filosofi Lari Marathon atau Sprint?

Oleh: Rizal Marajo

“Liga sepakbola itu seperti maraton, bukan sprint” adalah kutipan yang sangat umum. Kutipan itu adalah hubungan terdekat, walau secara tak langsung antara sepakbola dengan lari maraton adalah hal berbeda. Cuma diibaratkan, menghadapi sebuah kompetisi ada klub yang berkilah memakai filosofi lari marathon.

Marathon dalam atletik, masuk dalam kategori lari jarak jauh. Jarak resmi lomba sesuai aturan IAAF adalah 42,195 km. Untuk berlari sejauh itu, dibutuhkan persiapan treknis, terutama menyangkut fisik. Karena kemampuan fisik manusia berlari sejauh itu, sangat terbatas. Awalnya disebut nyaris mustahil jika manusia bisa berlari dibawah satu jam untuk jarak 42 km.

Namun, teori itu dipecahkan oleh Eliud Kipchoge. Seorang pelari marathon berusia 34 tahun asal Kenya ini, berhasil menorehkan catatan waktu 1 jam 59 menit 40 detik, memecahkan catatan tercepat sebelumnya atas namanya sendiri, yaitu 2 jam 25 detik di tahun 2017.

Kipchoge adalah bukti nyata mengenai teori evolusi manusia, pria yang telah menjuarai 8 kompetisi “major marathon” dan 3 kali mendapat medali emas di olimpiade ini berhasil membuktikan jika dengan kerja keras, manusia akan terus melampaui batasannya.

Marathon adalah soal strategi dan seni berlari. Setelah start yang rileks, maka pekerjaan utama berikutnya adalah mengatur tempo berlari, sehingga batas kemampuan fisik memadai dan terjaga sampai garis finish. Strategi mengatur tempo, kapan harus relaksasi, kapan harus menambah daya lari, sampai puncaknya sprint menjelang finish.

Filosofi lari marathon itulah yang banyak diambil pelaku sepakbola menghadapi kompetisi. Padahal kalau dianalisis, sepakbola itu sama sekali berbeda dengan marathon. Malah sebaliknya, sepakbola itu malah lebih mirip sprint, lari jarak pendek yang langsung tancap gas dari start agar bisa menggapai finish secepat mungkin.

Dalam sepakbola berlaku rumus persiapan adalah 50 persen dari keberhasilan di kompetisi. Persiapan matang, lebih panjang, punya waktu ideal, ditambah ambisi dan kerja-keras akan lebih berpotensi menuai keberhasilan. Proses tak akan mengkhianati hasil.

Tentu akan sulit bersaing bagi sebuah tim jika memasang jurus marathon, “berleha-leha” di awal, tapi mengharapkan kejayaan dengan hanya mengandalkan sprint di akhir. Tapi banyak manajemen klub, tetap percaya filosofi marathon tetap pas jika diterapkan di sepakbola. Betulkah?

Jika membicarakan maraton, kita harus kembali menggali sejarah dari saat kalender masehi belum ada. Marathon sebenarnya adalah nama kota di Yunani, asal muasal dari olahraga lari maraton ini adalah saat seorang pembawa pesan bernama Pheidippides diutus untuk membawa berita kemenangan Yunani atas Persia, dari Kota Athena menuju Kota Marathon.

Pheidippies ini berlari dari kota Athena menuju kota Marathon selama seharian penuh, karena tidak menyiapkan fisiknya dengan baik serta berlari tanpa henti, sesampainya di kota Marathon, Pheidippides meninggal dunia.

Memang masih banyak perdebatan mengenai sejarah marathon ini, seperti mengenai jarak dari kota Athena menuju kota Marathon yang hanya sekitar 30 kilometer, tidak sampai 42 kilometer, serta mengenai Pheidippides yang dikatakan berlari sambil mengenakan baju tempurnya yang berbahan perunggu, yang tentunya sangat berat dan menyebabkan dia kelelahan hingga meninggal dunia.

Inti dari sejarah marathon itu adalah jika berlari dengan jarak sejauh itu tanpa ada persiapan yang baik, itu akan berakibat buruk bagi tubuh kita, selain itu, untuk waktu yang ditempuh saat berlari saat itu bisa sampai seharian penuh (24 jam).

Kembali ke sepakbola, intinya adalah kembali ke masalah persiapan yang baik. Sebuah tim yang berkompetisi, apalagi dengan sebuah target besar, artinya mereka sudah berhitung dengan matang. Target adalah sebuah final, tidak ada lagi pembicaraan yang lain lagi, kecuali fokus dan sprint untuk mengejar target.

Artinya, ketika sudah berbicara target, berarti manajemen tim sudah siap segalanya. Mulai dari sumber daya manusia pendukung yang kompeten sudah dimiliki, finansial yang sudah tersedia, program terukur dan terencana tinggal dilaksanakan.

Maka akan aneh jika sebuah menajemen tim, jika sudah berbicara target tapi masih terbelah fokus dengan hal-hal lain yang tak ada kaitannya dengan target. Karena sepakbola bukanlah marathon, sepakbola adalah soal kecepatan, kematangan, perencanaan, dan kemauan.

Sepakbola hanya berbicara tentang dua hal, berhasil atau gagal. Jika fokus dan serius, maka kemungkinan hasilnya adalah dua, berhasil atau gagal. Sebaliknya, jika tak fokus kemungkinan hasilnya cuma satu, gagal! (*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Historia Bung Karno: Singa Podium itu Ternyata Pemalas Berolahraga, Hanya Mahir Main Sumpit dan Memanjat Pohon

Historia: Kisah Harry Gregg, Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa