in ,

Sepakbola Indonesia 2021: Ada Banyak Perut yang Perlu Diisi

Oleh: Rizal Marajo

Hampir setahun sepakbola Indonesia mati suri karena pandemi covid-19. Kini, resolusi yang paling sederhana menjalani tahun baru 2021 adalah kembalinya kompetisi sepakbola nasional meski tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat.

Namun, hal itu sepertinya masih akan sulit terwujud, karena olahraga, khususnya sepakbola dimata pemerintah bukanlah hal yang penting, bahkan mungkin dianggap hal yang bikin repot. Pemerintah selain fokus agenda vaksin di tahun 2021, juga sibuk dengan dinamika politik yang semakin liar akhir-akhir ini.

Ya, politik bahkan telah mengalahkan panasnya penanganan Covid-19. Mulai dari soal ormas yang dibubarkan, tragedi km50, sang Habib yang terus digebuki ramai-ramai, reshufle kabinet, korupsi dana Bansos, atau geng-geng yang saling menelikung di pusat kekuasaan, adalah wajah yang mendominasi Indonesia hari ini. Belum lagi soal rencana dan aksi menuju 2024 yang mulai disusun dari sekarang.

Nah, apa pentingnya urusan sepakbola ditengah situasi seperti itu? Padahal, pemerintah harusnya juga mengedepankan olahraga sebagai salah satu “senjata” massal melawan corona. Sayangnya, sejauh ini sisi olahraga ditepikan, tak dianggap.

Ketika sepakbola di negara-negara lain, secara perlahan mulai hidup lagi dengan normal, di Indonesia sama sekali dibiarkan terbenam atau semakin dibenamkan. Tak perlu melihat ke Eropa dulu, untuk Asia Tenggara saja, satu-satunya negara yang belum memutar kompetisi adalah Indonesia. Bahkan Filipina yang sepakbolanya baru mulai bergairah, berani memutar kompetisi dengan prokes yang ketat.

Begitu sulitnya di Indonesia mendapatkan secarik surat izin dari Kepolisian untuk memutar lagi kompetisi. Bahkan ketika Ketua Umum PSSI yang nota-bene seorang mantan perwira tinggi Polri sekalipun tak punya daya untuk mendapatkan surat itu.

Indonesia harus belajar dengan negara-negara lain yang juga diserang wabah. Bagaimana kegiatan sepakbola tetap dijalankan meski dengan aturan yang ketat. Sepakbola selain bisa menjaga imunitas tubuh, juga bisa menjadi hiburan bagi masyarakat di tengah harus menjalani aktivitas yang terbatas.

Yang paling urgen, bergulirnya sepakbola bisa menyelamatkan perut banyak orang yang terlibat dalam sepakbola. Karena hidup mereka memang tergantung pada pekerjaan di sepakbola. Ketika sepakbola itu mati, sementara perut tetap harus diisi.

Mulai dari pemain dan keluarganya, pelatih, wasit, sampai kepada tukang urut dalam tim. Semuanya butuh kompetisi dan sepakbola hidup lagi. Mereka hanya melongo, ketika hiruk pikuk Pilkada lalu berjalan mulus, padahal potensi terciptanya kerumumnan yang jauh lebih besar.

Sementara olahraga dan sepakbola yang dibatasi dengan cermat dengan protokol kesehatan ketat, tak diberi ruang untuk bergulir. Usaha Pssi bersama PT. LIB meyakinkan pemerintah bahwa sepakbola adalah salah satu media paling pas untuk mengembalikan psikologis masyarakat setelah hampir setahun berjuang melawan covid-19, hanya dianggap angin lalu.

Entah kapan akan dimulai? karena sampai saat ini masih mentok diperizinan. Para pemain asing satu persatu pergi, klub perlahan membubarkan diri. Krisis keuangan yang membelit karena tak adanya kompetisi mengancam eksistensi klub menuju kebangkrutan. Inilah fakta yang dihadapi klub-klub Indonesia sekarang!

Mungkin lebih baik fokus menatap musim baru 2021 dengan protokol kesehatan ketat plus regulasi baru. Karena kalau melanjutkan kompetisi 2020, juga akan sia-sia belaka, dan sudah tidak ada yang dikejar lagi. Untuk kompetisi antarklub Asia sudah ditunjuk Bali United dan Persipura Jayapura.

Imbas lain, ranking kompetisi Indonesia di Asia semakin jeblok. Tak dapat jatah tampil di Liga Champions Asia. Bahkan untuk klub Profesional saja, Indonesia hanya mampu meloloskan 7 klub. Jangan dulu bandingkan dengan Thailand, Malaysia, atau Vietnam, bahkan Indonesia sudah kalah dengan Myanmar yang meloloskan 15 klub. Ranking FIFA juga terpuruk di posisi 176. Artinya, sepakbola Indonesia saat ini benar-benar tenggelam.

Kini, waktu yang tepat membangun kembali dari awal. Diperkuat pondasinya dengan cara memperketat semua aturan dan regulasi. Tak ada lagi jual beli lisensi. Diatur ketat klub ganti nama dan pindah homebase. Dan, yang utama wabah harusnya menjadikan berpikir ke depan untuk kompetisi sehat tanpa rekayasa agar sepakbola Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan! (*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Hasil dan Klasemen Liga Italia: AC Milan Kokoh di Puncak, Juventus dan Ronaldo Punya Rekor Baru

Tiba di Spanyol, Shin Tae-yong Gelar Internal Game TC Timnas U-19