in , ,

SukaSuka

Robby Mariandi: Karir Berliku Anak Minang, Bersaing dengan Tiga Bomber Timnas di Persija dan Jersey Semen Padang FC yang Sebatas Impian

Penulis: Rizal Marajo

Padang, Bolabeten – Bagi pelaku sepakbola Sumbar, nama Robby Mariandi bukanlah sosok asing, bahkan sangat familiar. Mantan pemain yang yang bersinar era awal milenium dan kini berkarir sebagai pelatih, adalah salah satu anak Minang yang pernah menghiasi pentas sepakbola nasional. Dia telah bertualang di sejumlah klub tanah air sepanjang karirnya, walau bukan di level atas.

Kilas balik karir pria asal Solok Selatan kelahiran Padang 28 Oktober 1980 ini memang penuh dinamika, suka dan duka, dan penuh perjuangan. Jika di review satu persatu, endingnya akan ditemukan sosok seorang Robby yang tahan banting, dan tidak runtuh oleh sebuah permasalahan, atau tergilas oleh intrik-intrik dunia sepakbola.

1. Alumni PPLP Sumbar

Karir bola Robby dimulai saat menjadi bagian dari PPLP Sumbar, sebuah Diklat yang banyak melahirkan pemain-pemain berbakat di Sumbar. Robby adalah Alumni PPLP Sumbar tahun 1998. Dari situlah semuanya dimulai.

Setamat PPLP, impian Robby untuk bergabung dengan tim Semen Padang FC tak kesampaian, walau harapan awalnya sempat terbauka. Tapi pada akhirnya tak kunjung terwujud. Bahkan sampai akhir karirnya, memakai jersey Semen Padang FC tetaplah hanya sebuah impian.

Hal itu membuatnya memutuskan hijrah ke Jakarta untuk meneruskan impiannya merajut masa depan di sepakbola. “Tak mudah meniti karir di ibukota, tapi selalu akan ada jalan. Yang penting ada kemauan dan keseriusan untuk menjalani dan memperjuangkannya.”kata Robby, kepada media ini.

2. Persija Jakarta dan Tim PON DKI Jakarta 2000

Dari menumpang latihan bersama tim Yunior Persija Jakarta 1999, Robby akhirnya bisa manarik perhatian tim pelatih Persija saat itu, Ivan Kolev. Walau belum masuk tim inti, tapi Robby bisa menmbus skuad “Macan Kemayoran” bersama beberapa pemain muda seumurannya, seperti Bambang Pamungkas dan Ismed Sofyan. Disaat bersamaan untuk persiapan PON 200 di Surabaya, Robby terpanggil memperkuat tim PON DKI Jakarta.

Usai PON, persaingan internal di Persija demikian sengit di posisi striker, membuat Robby tak banyak dapat menit bermain.”Pesaing saya semuanya pemain Timnas, Bambang Pamungkas, Gendut Doni, Budi Sudarsono, bahkan Widodo C Putra. kapan saya dapat bermain.”ujar Robby mengenang.

Praktis selama di Persija musim 2000, dia tak pernah turun sebagai starter. Satu-satunya Robby sebagai starter saat Persija Ujicoba melawan klub Hongkong Instant Dict FC yang diperkuat Rochi Poetiray di Lebak Bulus. “Selebihnya tak ada, kalau pun turun sebagai pemain pengganti, itupun diujung pertandingan, belum sempat menyepak bola, peluit panjang berbunyi.”tambah Robby terkekeh.

Walau begitu, Robby tetap mengenang masa-masa di Persija sebagai hal yang penting dalam karirnya, karena pernah satu tim dengan nama-nama besar Timnas Indonesia. Dan, sebenarnya dia juga tidak terlalu buruk sebagai striker. Buktinya dimusim berikutnya dia tetap dipertahankan.

3. PSP Padang dan Melanglang Buana

Musim 2001, Persija tetap memakai jasa Robby, tapi pelatih berganti dari Ivan Kolev ke Sofyan Hadi. Pada  putaran kedua, Robby dipinjamkan ke PSP Padang, yang semasa itu dipegang oleh Indra Sjafri dan sedang berjuang lolos dari degradasi.

“Sedihnya, ketika saya tinggalkan, Persija akhirnya juara Divisi Utama Liga Indonesia, dan saya pindah ke PSP Padang yang akhirnya tak selamat dari degradasi.”lanjut Robby soal ceritanya di PSP Padang yang terdegradasi, walau di penghujung musim tim yang sudah ngos-ngosan di tangan Indra Sjafri sudah beralih pelatih kepada sang legenda, Suhatman Imam.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun petualangan bagi Robby, walau bukan di klub-klub elit kasta tertinggi, tapi sejumlah klub Divisi 1 pernah memakai jasa pemain biasa dipanggil “Kenon”, karena punya kelebihan dalam melepaskan tendangan canon call.

Diantara klub yang pernah diperkuat Robby; Persikab Kab. Bandung, PSJS Jakarta Selatan, Persid Jember, PSIM Jogjakarta, Persiku Kudus, dan Persidafon Dafonsoro. Tapi klub terakhir Robby yang menutup karirnya sebagai pemain adalah Bogor Raya FC, klub Liga Primer Indonesia, kompetisi sempalan yang diprakarsai Arifin Panigoro.

Disana Robby bergabung dengan sejumlah pemain asal Sumbar, seperti Masperi Kasim, Abdul Faisal, dan Nofrizal. Juga ada disana pelatih John Arwandi. “Semua klub itu punya kenangan masing-masing, baik yang manis maupun yang pahit. Ada klub yang kaya ada yang kere, ada yang serius ada pula yang tidak. Tapi setidaknya bagi saya itu menjadi sebuah catatan sejarah karir di sepakbola yang semuanya butuh perjuangan dan kerja keras,”tegas Robby.

4. Menjadi Pelatih

Usai menggantung sepatu tahun 2011 dalam usia 31 tahun bersama Bogor Raya FC, Robby mulai merintis karir sebagai pelatih, yang memang dirintisnya dari nol. Sempat juga Robby menjadi pelatih SSB di Jakarta, kemudian pulang ke Padang menjadi asisten pelatih tim Futsal PON Sumbar 2012.

Selain itu, Robby juga mulai mengambil lisensi-lisensi kepelatihan. Dia juga sempat melatih tim-tim kelompok umur dan Akademi Sepakbola Semen Padang FC. Bahkan sempat juga pelatih yang kini menyandang lisensi B AFC itu menjadi asisten pelatih tim Semen Padang FC U-19 tahun 2017 bersama Weliansyah.

Potensi kepelatihan Robby makin terlihat, saat melatih tim Solok FC di Liga 3 Sumbar 2018. Tim ini berhasil dibawanya menjadi juara Liga 3 Sumbar, dan lolos sampai babak 16 besar nasional. sebuah capaian luar biasa bagi sebuah tim yang baru berumur 1 tahun.

Kinerja ini menjadi satu referensi yang mengantarkannya menjadi pelatih tim Pra PON Sumbar 2019 yang berlaga di Porwil Sumatra 2019 di Bengkulu. Sayangnya Robby gagal mengantarkan timnya meraih tiket ke PON Papua.

5. Epilog



Kisah perjalanan karir Robby Kenon di sepakbola memang sebuah perjuangan yang benar-benar menguji kekuatan hati dan mentalnya. Dia memang bukan pemain sekaliber Bambang Pamungkas, Ellie Aiboy, Firman Utina, Budi Sudarsono, tapi bagi Robby kepandaian bersepakbola adalah anugerah terbaik yang diberikan Allah SWT kepadanya.

“Kalau tidak karena sepakbola, orang tidak akan tahu siapa Robby Mariandi. Saya hanya menjalani kehidupan dengan sepakbola. Saya suka dan mencintai permainan ini, karena dengan sepakbola saya banyak belajar tentang kehidupan. Apa artinya sebuah perjuangan, apa artinya bangkit dari jatuh, bagaimana tegar menghadapi sebuah masalah, sepakbola adalah media ujiannya bagi saya.”kata Robby.

Sepakbpola bagi Robby bukan hanya soal cerita manis, tentang gol demi gol yang dicetak, tentang menang atau kalah, atau juara atau tak juara. Tapi banyak hal lain yang lebih penting dari itu di sepakbola, Good Luck, Kenon!

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Preview Juventus vs Sampdoria: Jika tak ada Halangan, Malam Ini “Nyonya Tua” Juara

Ternyata Alasan Timnas Indonesia Batal Latihan Perdana, Bukan Karena ada Pemain dengan Keluhan Covid-19