in ,

Menunggu Pemilik “Kursi Panas” Pelatih Semen Padang FC 2021

Semen Padang FC masih tenang-tenang saja melihat situasi, ketika satu persatu pesaing di Liga 2 2021 sudah bergerak. Mulai dari menetapkan pelatih, berburu pemain, bahkan sudah ada yang launching tim  dan memulai sesi latihan.


Oleh Rizal Marajo

Semen Padang FC masih tenang-tenang saja melihat situasi, ketika satu persatu pesaing di Liga 2 2021 sudah bergerak. Mulai dari menetapkan pelatih, berburu pemain, bahkan sudah ada yang launching tim  dan memulai sesi latihan.

Agak berbeda dengan tim-tim lain, gerak Semen Padang FC menatap musim ini, lebih mendahulukan hal-hal diluar aspek teknis. Misalnya memastikan finansial aman, berusaha menarik sponsor sebanyak mungkin, dan sebagainya.

Salah satu yang sudah fix, urusan seragam tim sudah aman tenteram, setelah manajemen tim mengikat kerjasama dengan apparel Xten. Fans tinggal menunggu, kira-kira seperti apa tongkrongan seragam tempur Kabau Sirah nanti.

Langkah yang teliti dan hati-hati juga sebenarnya dari super manejer Effendi Syahputra, ditengah kepastian Liga yang masih jauh dari kata fix. Berhitung dengan pasti, mungkin itulah jurus sang manejer. Itu maka salut kita dinya.

Tapi, biar bagaimanapun, yang paling ditunggu pecandu SPFC saat ini tentulah siapa yang akan menjadi pelatih tim. Karena kepastian pelatih adalah titik awal dimulainya proses membangun sebuah tim.

Biasanya, ketika pelatih sudah permanen dan pasti, maka dari situ bisa berbicara tentang rencana sebuah tim, kebutuhan pemain, program, bahkan sudah bisa bicara tentang sebuah target.

Karena fungsi pelatih adalah leader dalam sebuah tim. Tugas dan tanggungjawab tertinggi ada di tangan pelatih. Ibarat bikin film, pelatih adalah sutradara yang akan mengarahkan alur cerita.

Pertanyaannya sekarang, siapa kira-kira yang akan menduduki kursi sutradara Semen Padang FC yang lumayan panas itu?

Yang jelas, jangan sebut-sebut lagi Eduardo Almeida, pelatih asal Portugal yang dua musim terakhir mengharu-biru perasaan fans SPFC. Walau tak ada yang fenomenal diberikan Edu, tapi kesantunan pria ini mendapat tempat tersendiri.

Mungkin Almeida, satu-satunya di duya ini pelatih yang gagal menyelamatkan timnya dari degradasi, tapi diberi buket bunga dan diminta melatih kembali untuk musim berikutnya, seolah dia baru saja memberi tim gelar juara. Semuanya dimaafkan, begitu benarlah terkesannya pada pria yang satu ini.

Sekarang Almeida sudah dapat pelabuhan karirnya yang baru di Timur Tengah. Testimony nan penuh haru dan sentimentil sudah dikeluarkannya di akun IG-nya. Intinya, jika ada jodoh bertemu lagi kita nanti. Sampai-sampai, entah siapa pula yang mengajarkan, dikutipnya pula istilah populer Minang; “Bapisah bukannyo bacarai”. Begitu benarlah tuan Almeida.

Nah. jika merujuk pernyataan sang manejer yang kerap diulang-ulang akhir-akhir ini, bahwa SPFC tahun 2021 akan lebih mengoptimalkan pemain-pemain lokal Ranah Minang untuk mengisi skuad. Sepertinya hal itu juga akan berlaku untuk pelatih.

Logika bodohnya saja, tak mungkin pula sekumpulan anak-anak Minang akan dilatih oleh orang luar, apalagi oleh orang tak bisa berbahasa Indonesia. Jauh lebih masuk akal memakai pelatih lokal yang pastinya akan lebih kenal dan paham karakter pemain-pemain lokal.

Satu lagi, tak perlu repot soal biaya, soalnya pelatih lokal bisa digoyang harganya agak sedikit, harga  awak samo awak lah ke namanya.

Setelah dua nama mantan yang sempat disebut-sebut fans, seperti Nilmaizar dan Jafri Sastra pergi membantu dua klub Sumatra Selatan, calon-calon pelatih SPFC semakin mengerucut dan semakin sedikit pilihan.

Mungkin tidak akan jauh-jauh, nama-nama seperti Weliansyah, Delfi Adri, dan Syafrianto Rusli, diprediksi salah satunya akan menduduki kursi panas itu. Selain ketiganya sudah paham A-Z Semen Padang FC, ketiga nama itu memang yang paling punya jahitan untuk menukangi SPFC sekarang.

Pengalaman, lisensi, dan “ketabahan” mereka menukangi Semen Padang FC sudah teruji dan sangat memadai. Tinggal menunggu pertimbangan dari manajemen, serta mendengar “bisikan” kiri kanan dulu, sebelum manajemen ketok palu untuk satu nama diatas.

Ketiganya jelas punya plus minus, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun ada baiknya juga jika ditelusuri lebih cermat kiprah ketiga orang itu dalam tiga tahun terakhir bersama Semen Padang.

Weliansyah, soal loyalitas dan kecintaan pada SPFC jangan diragukan. Dia terlibat dalam dalam jatuh bangunnya tim tiga tahun terakhir. Boleh dikatakan, dia orang paling mengerti dan paling paham Semen Padang FC saat ini.

Dari segi melatih, Weli tidaklah buruk, hanya soal diberi tanggungjawab penuh. Karena selama ini dia terlibat dalam tim baru sebatas asisten atau cartaker.

Jika tahun ini Weli diberi wewenang 100 persen sebagai head coach, itu adalah pilihan masuk akal dari manajemen. Walaupun disisi fans, Weli terkadang tak disukai atau diremehkan. Judge yang tidak adil juga sebenarnya, ketika Weli belum diberi kepercayaan penuh 100 persen sebagai head coach.

Delfi, juga pelatih bagus, tapi untuk melatih SPFC senior, lelaki asal Payakumbuh ini juga belum begitu teruji. Dia lebih banyak sebagai asisten. Satu-satunya pengalamannya pegang komando di bench, adalah saat jadi caretaker di Liga 1 2017 untuk beberapa pertandingan.

Delfi lebih banyak bermain di level tim muda Semen Padang FC, dan dia bagus kalau di level itu. Pendekatan personal pada pemain dan totalitas untuk Semen Padang FC tak perlu diragukan. Sosoknya yang low profile dimata pemain dan fans, membuat pria ini sangat disukai.

Kemudian,  Syafrianto Rusli, masih kerap disebut pelatih futsal, tapi pengalaman dan senioritasnya tak diragukan. Apalagi soal lisensi, pria ini adalah penyandang AFC Pro. Hanya 20 orang di negeri ini yang memegang lisensi tertinggi itu.

Ingat, untuk Liga 2, Syafrianto sangat berpengalaman. Bahkan, orang inilah yang membuat SPFC hanya numpang lewat di Liga 2 2018. Semusim, tim langsung dibawanya kembali ke Liga 1 tahun 2019. Badagok juga lekat tangan pelatih yang satu ini.

Hanya saja, sepakbola bukanlah “tikam jejak”, tak ada jaminan apa yang terjadi dimasa lalu akan bisa terulang di tangan orang yang sama. Kondisinya akan jauh berbeda, dan tidak akan mudah mengulang hal yang sama. Bak petuah rang gaek-gaek kita juga, pisang saja enggan berbuah dua kali.

Entahlah, kalau super manajer punya pemikiran lain, dan menepiskan tiga nama tersebut. Misalnya membawa nama yang tak pernah terfikirkan sebelumnya, atau memberi surprise menunjuk nama-nama fresh. Baa ke baa, hitam putih SPFC sekarang ditangan liau.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Liga 2 2021; Empat Klub “Seleb” yang Menghebohkan, yang lain cuma Melongo?

BBC Batuang Taba dan Nalayan ke Semi Final