in , ,

Kilas Balik : (Alm) Zatako, Wartawan Olahraga Senior Yang Dituduh “Dukun” PS. Semen Padang, Penyemat Julukan Ayam Kinantan, PSMS Medan

Kisah Klasik

Almarhum Zatako, wartwan olahraga senior nasional/foto : istimewa

Medan, bola beten – Zatako, nama lengkapnya Zainudin Tamir Koto adalah wartawan olahraga senior nasional yang meninggal pada tahun 2011 silam di usia 69 tahun adalah kelahiran Sumatera Barat, di Desa Gasan Ketek, Kabupaten Padang Pariaman, 14 Desember 1941.

Tinggal di kampung halaman, Sumatera Barat sejak lahir hingga usia 5 tahun. Di bawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, Sumatera Utara.

Semasa hidup, kiprahnya di dunia sastra dan jurnalistik bermula sejak tahun 1960-an. Karya-karyanya (puisi dan cerpen) dimuat di berbagai media di antaranya majalah sastra Horison, serta media di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Penampilannya sangat bersahaja dengan ciri khas memakai kopiah dan rompi itu bekerja untuk sejumlah media massa, Harian Sinar Pembaharuan, Harian Waspada, Harian Merdeka, koresponden Kompas untuk Sumatera Utara, mendirikan Majalah Olympic, khusus olahraga. Dan media massa lainnya. Zatako pun dikenal luas sebagai wartawan olahraga khususnya sepakbola nasional. Penerima PIN EMAS PWI Pusat. Dan anggota seumur hidup.

Bicara sepakbola. Dua klub Liga 2-2020 saat ini, PSMS Medan dan Semen Padang FC menyimpan kenangan terhadap dirinya. .

Ada cerita yang pantas sekali dikenang oleh kubu PSMS Medan dan Semen Padang FC.

PSMS Medan Perserikatan 1985/foto google

Alm. Zatako merupakan orang yang menyematkan julukan “Ayam Kinantan” bagi PSMS Medan, yang melekat hingga sekarang. Sejarahnya ketika PSMS juara untuk kali terakhir era Perserikatan 1985 silam. PSMS punya julukan Ayam Kinantan.

Sesaat setelah menjuarai Kompetisi Perserikatan 1985 melawan Persib Bandung, yang dimenangkan PSMS lewat adu penalti 2-1 setelah skor di waktu normal 2-2 itu, julukan Ayam Kinantan mulai dipakai.

Ayam Kinantan merupakan ayam jago biasa yang kebetulan dimiliki seseorang di kawasan Jakarta yang bernama Kinantan. Entah siapa yang meminta ayam itu yang kemudian dibawa ke Medan dijadikan hadiah kecil keberhasilan PSMS menjuarai kompetisi Perserikatan untuk kelima kalinya saat itu.

Sesampai di Medan, Ayam tersebut diarak keliling kampung bersamaan diaraknya skuad PSMS oleh Warga Medan. Seluruh isi kota saat itu bersatu merayakan kemenangan dramatis tersebut. Ironisnya, tak lama setelah merayakan keberhasilan itu dengan iring-iringan dan arak-arakan skuad dan warga yang berbaur, ayam tadi akhirnya dibiarkan terkurung di Stadion Kebun Bunga.

“Setelah itu ayam itu tak nampak lagi. Mungkin dicuri orang,” cerita Alm. Zatako (sumutpos,11/12/2012).

Begitulah, akhirnya nama Ayam Kinantan pun mulai digemakan. Dan melekat menjadi julukan PSMS Medan.

PS Semen Padang 2006/foto Heryandi

Lain pula kisahnya dengan klub Semen Padang FC. Kisah uniknya suatu hari di tahun 2007. Di musim Liga Indonesia 2006/2007, ia meliput pertandingan sepakbola antara PSIS Semarang melawan Semen Padang di Stadion Jatidiri Semarang. Ia termasuk dalam rombongan tim Semen Padang.

Saat pertandingan Zatako mengambil posisi di belakang gawang PSIS. Tentu karena keterbatasan kamera yang dimilikinya, ia mencari posisi sedekat mungkin dengan pemain. Secara kebetulan PSIS mendapat tendangan penalti. Tendangan itu gagal dan PSIS bermian imbang (0-0) dengan Semen Padang. Pendukung PSIS lantas mencurigai Zatako sebagai biang keladi.

Secara sekilas penilaian orang Semarang tak salah. Saya sempat melihat fotonya saat itu yang dimuat salah satu koran Jawa Tengah. Potongan Koran itu masih disimpan Zatako. Saat itu ia tak menggunakan songkok, rambut putihnya yang sedikit gondrong dibiarkan tergerai. Apalagi ia hanya membawa kamera “antik”. Orang tak menyangka ia wartawan.

Usai pertandingan ia langsung menjadi sasaran amuk suporter. Zatako dipukuli. Untunglah seorang polisi militer yang sedang bertugas mengenalnya. Polisi itu asal Medan, tinggal di sekitar Kebun Bunga. Ia sempat diselamatkan. Meskipun sempat memar di sana sini.

“Saya dikira dukun,” sebutnya di (hananlubis.worpress.com)

“Saat di hotel mereka ramai-ramai datang lagi. Mereka minta maaf sama saya,” ujarnya terkekeh.

Zatako meninggal di Medan, Sumatra Utara, 11 Desember 2011 dalam usia 69 tahun.. Al Fatihah. (*/Diambil dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Curhat Hati Mantan Pemain Semen Padang FC; “Terkunci” Sendirian di Mes Arema, Rindu Keluarga di Papua

Terlibat Home Industri Sabu, BNNP Jatim Tangkap Pesepakbola Aktif, Mantan Wasit dan Pengurus Askot