in ,

Inilah Lawan-lawan Eduardo Almeida Beradu Strategi, Siap-siap “Dikeroyok” Pelatih Lokal

Penulis: Rizal Marajo

“Kita serius dengan target lolos ke Liga 1. Kalau kita tak serius, kita tak akan mengontrak kembali Coach Eduardo Almeida untuk jadi pelatih. Dia pelatih yang bagus, bahkan bisa disebut salah satu pelatih termahal di Liga 2” (Effendy Syahputra, Manejer Semen Padang FC)

**********

Semen Padang FC menunjuk kembali Eduardo Almeida sebagai pelatih mengharungi Liga 2 2020. Walau tak mampu menyelamatkan “kabau Sirah” dari degradasi Liga 1 2019, tapi juru taktik asal Portugal di anggap masih layak menukangi tim di Liga 2, yang dibebani target lolos ke Liga 1 2021.

Setengah musim di Liga 1, capaian pria 43 tahun itu tidak terlalu buruk, jika melihat akumulasi angka dan progres permainan tim selama putaran kedua Liga 1. Tapi juga tak bisa dibilang bagus, karena timnya tetap terdegradasi.

Liga 2 2020 akan menjadi pembuktian sesungguhnya bagi pelatih yang memulai kariernya melatih tahun 2001 dengan menjadi asisten pelatih Benfica U-16 selama tiga tahun. Selanjutnya, Almeida menjajal peruntungannya dengan melatih Uniao Almeirim U-19, dan asisten pelatih di Atletico do Cacem dan South China.

Dengan curicculum vitae yang cukup padat Almeida cukup kompeten sesungguhnya. Dia telah melatih tim senior Atletico do Cacem, African Lyon. Sejak 2012, Almeida melatih tim senior A.S.C, T-Team, Kozarminsleny, African Lyon, Lanexang United, Pinhalnovense, dan Angrense. Dia juga bertualang di Asia Tenggara bersama Melaka United dan Ubon United.

Kini dengan atmosfir Liga 2 yang berbeda dari Liga 1, Almeida dituntut bisa membawa Semen Padang kembali ke Liga 1. Dengan pemain pilihannya sendiri dan kompetisi dimulai dari nol, Almeida jelas tak punya argumen sebenarnya.

Yang ditunggu sekarang adalah bagaimana racikan tactical dan strategi menghadapi para pesaing di Grup D. Sebagai satu-satunya pelatih asing, dia harus bersaing beradu pintar di bench dengan lima pelatih lainnya, yang semuanya adalah pelatih lokal.

Menarik dilihat dan ditelusuri lima pelatih yang akan menjadi lawan Almeida di Grup D. Dan bolabeten mencoba menyigi pelatih PSMS Medan, Sriwijaya FC, Sulut United FC, Persekat tegal, dan Persijap Jepara.

1. Philep Hansen (PSMS Medan)
Track record pelatih asal Riau ini memang belum begitu terdengar di level elit sepakbola Indonesia, walau sudah menyandang lisensi A AFC. Belum ada catatan prestasi mengesankan yang ditorehkan Philep di kompetisi nasional.

Memang agak mengherankan, jika tim ambisius seperti PSMS memutuskan mengontrak pelatih kurang terkenal dan belum teruji seperti dirinya. Pasti ada kelebihan yang dilihat manajemen PSMS pada diri Philep, sehingga memilihnya jadi pelatih, menyisihkan belasan pelatih lain yang rata-rata sudah punya nama.

“Kami sudah cek latar belakangnya dan dia sangat ambisius dan siap dengan target. Jika tidak dapat target di putaran pertama siap dievaluasi. Target kami jelas ke Liga 1. Dalam kontrak juga ada klausul untuk evaluasi. Pelatih jangan takut diberi kewenangan memilih pemain,”ungkap manejer PSMS Mulyadi Simatupang.

Patut ditunggu kemampuan Philep yang akan menakhodai “kapal mewah” PSMS yang sarat pemain-pemain berkelas Liga 1. Penganggum Juergen Kloop ini mengaku lebih mengutamakan fighting spirit dan motivasi.

“Ada syarat khusus, salah satunya kemauan untuk mengenakan jersey hijau. Membawa PSMS ke Liga 1. Kemauan para pemain yang saya tanya. Dan itu cara melatih saya, yang utama adalah motivasi, kita kasih wejangan yang bikin pemain semangat. Itu trik saya,” ucapnya. Cukupkah hanya dengan itu?

2. Budiardjo Thalib (Sriwijaya FC)
Sriwijaya FC menaruh harapan besar kepada Budiardjo Thalib. Setelah sukses membawa Persik Kediri promosi ke Liga 1, harapan sama disandarkan Sriwijaya kepada Budiardjo. Manajemen tim percaya sepak terjang Budiardjo bersama Persik Kediri diharapkan bisa menular ke Sriwijaya FC.

Karir pria yang pernah menjadi asisten pelatih PSM Makassar ini, telah kenyang melanglang buana di berbagai klub sepak bola sebagai pemain, seperti PSIS Semarang di tahun 1992. Selain itu, Budiardjo Thalib juga sudah berkarir sebagai pelatih sejak tahun 2007 silam.

Diakui Budiardjo Thalib, dia datang ke Palembang punya tugas besar meloloskan Laskar Wong Kito ke Liga 1. Baginya itu bukan tugas yang mudah, karena itu itu dia meminta dukungan penuh dari pihak Sriwijaya FC, terutama para suporter dan masyarakat Sumsel.

Pelatih namanya melejit sejak membawa Persik promosi, setidaknya membutikan kapasitas dirinya sebagai pelatih yang layak diperhitungkan. Karena itu, dia tak terlalu gentar jika di Grup D akan bertemu dengan klub-klub kuat, khususnya dua tim sumatra lainnya, seperti Semen Padang Fc dan PSMS Medan.

Salah satu kelebihan Budiardjo adalah, dia lebih suka skuadnya dengan pemain muda yang dinilainya lebih punya motivasi dan tenaga. Hal itu dibutikannya di Persik, dengan pemain medioker dia mampu mengantarkan timnya ke LIga 1.

3. Ricky Nelson (Sulut United FC)
Jangan remehkan pelatih yang satu ini, karena mantan pelatih Borneo FC dikenal sangat tegas dan punya kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dia juga dikenal seorang motivator ulung. Tak heran, Ricky salah satu pelatih yang karakternya paling meledak-ledak di Indonesia. Dia mirip Iwan Setiawan, yang selalu percaya diri dan tak pernah takut menghadapi lawan manapun.

Prestasi terbaik Ricky Nelson saat membawa Borneo FC ke final Piala Presiden 2017. Setelah menyingkirnkan Persib Bandung di semifinal, Borneo takluk dari Arema Fc di partai puncak. Alasan itulah Sulut United menunjuknya jadi pelatih menggantikan Herry Kiswanto untuk Liga 2 2020.

Namun mungkin banyak orang tidak mengetahui tentang Ricky Nelson pelatih yang sebelumnya lebih dikenal sebagai agen pemain asing dan pegiat sepakbola usia dini. Namun dia diakui sebagai pelatih yang dianggap jeli dalam mengatur taktik dan strategi di lapangan.

Salah satu yang menonjol dari penampilan Ricky Nelson adalah selalu memakai jas ketika mendampingi timnya bertanding. Kebiasaan itu selalu dilakukannya sejak masih menangani tim Divisi Utama Villa 2000, bahkan di klub junior sebelumnya. Tanpa mempedulikan cuaca panas terik, Ricky Nelson tetap memakai jas. Hal itu dilakukannya karena ingin menghargai profesi sebagai pelatih. menarik ditunggi makan tangan pelatih enerjik yang satu ini.

4. Nazal Mustofa (Persekat Tegal)
Nazal Mustofa mungkin layak disebut pelatih yang gemar gonta-ganti klub. selain itu, namanya juga belum familiar di kalangan pecinta sepakbola Indonesia. Dia dianggap pelatih yang memiliki potensi dan hanya menunggu waktu untuk menukangi klub-klub besar.

Nazal pernah melatih klub Kepri 757 Jaya dan Persik Kediri di Liga 2. Artinya, atmosfir Liga 2 bukan sesuati yang asing bagi pelatih yang dikenal religius ini. Dengan pengalaman Nazal, Persekat berharap bisa meraih hasil memuaskan di Liga 2 2020.

Persekat mamang tak punya ambisi besar lolos ke Liga 1. Tim Pantura ini cukup tahu diri, dan awalnya hanya menargetkan bertahan di Liga 2. Tapi dengan dihapuskan degradasi di Liga 2, Persekat akan tampil lebih lepas.

Nazal juga sudah bertekad, walaupun lawannya di Grup D nanti bukan tim sembarangan, tapi dia tak mau timnya hanya jadi pelengkap, apalagi jadi lumbung gol. Dengan skuat gabungan senior dan pemain muda, Nazal menyatakan siap beradu strategi dengan pelatih-pelatih lain di Grup D.

Malah dia merespons hasil undian grup tersebut dengan gembira dan mensyukuri hasil undian grup. Meski Persekat dianggap tim underdog, ia tetap yakin bisa menghadapi tim-tim yang tergabung di Grup D. “Kami optimistis. Kami juga melakukan persiapan. KKami di grup ini memang dianggap tim underdog, ini bisa jadi motivasi anak-anak,”tegas pria asli Tegal itu.

5. Widyantoro (Persijap Jepara)
Ketika Pelatih Kepala Persijap Jepara Sahala Saragih mundur, Persijap sigap mencari penggantinya. Pilihan jatuh pada salah satu legenda sepakbola Jawa Tengah, Widyantoro. Eks Asisten Pada PSIS Semarang itu dipercaya Persijap Jepara untuk mengarungi Liga 2 2020.

Pelatih berlisensi A AFC yang pernah menjadi caretaker pelatih kepala PSIS Semarang musim 2019 menggantikan Jafri Sastra, adalah pelatih kaya pengalaman. Dia juga pernah menangani tim-tim
lainnya, seperti PPSM Magelang, PSS Sleman, serta Persis Solo. semasa jadi pemain ia juga pernah sebagai pemain paling lama di klub BPD Jateng, juga pernah memperkuat Timnas Indonesia.

Widyantoro mengaku senang timnya berada di Grup D Liga 2 2020. Walau bertarung dengan tim-tim kuat Sumatra, tapi dia sangat termotivasi membawa tim asuhannya menggapai hasil maksimal. Dia juga tak gentar, walau skuadnya banyak dihuni pemain-pemain muda.

Hanya saja dia sedikit menyayangkan Liga 2 yang diputuskan tanpa degradasi, karena hal itu sedikit banyak bisa mengurangi motivasi tim bermain. “Kalau tidak ada degradasi saya pikir nanti gregetnya kurang, nanti pertandingannya kurang seru.”ujar pria yang ramah dan low profile ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Laga Timnas Indonesia U-19 di International U-19 Friendly Tournament di Kroasia disiarkan Televisi Ini

Eks. Kiper PSP Padang Telah Gabung di Training Camp PSIS Semarang usai dinyatakan Negatif Covid-19