in ,

Hardimen Koto: The Soccer Traveller, Guyuran Air di Gersangnya Padang Sahara

 

Oleh: Rizal Marajo

Berapa banyak wartawan Indonesia, wartawan olahraga khususnya, yang sudah menerbitkan buku perjalanan jurnalistiknya? Jawabannya, mungkin tidak banyak. Itu sepanjang pengetahuan saya.

Ditengah “kegersangan” itu, hari ini muncul Soccer Traveller, karya Hardimen Koto (HK). Buku langka itu langsung jadi magnet, menarik perhatian, dan menumbuhkan rasa penasaran banyak orang untuk memiliki dan membacanya.

Kesan pertama begitu menggoda, mungkin seperti itu, ketika orang-orang baru melihat cover-nya yang diposting di sosial media. Sangat merangsang orang untuk bisa membalik halaman per halaman.

Usai menikmati konten demi konten, testimony tentang buku ini tanpa dikomando langsung dituliskan. Luar biasa, semuanya menyambut dengan positif, kagum, bahkan takjub. Semua tentang seorang Hardimen Koto dikeluarkan, entah itu rasa kagum, simpati, hormat, dan ternyata itulah HK yang sesungguhnya.

Tak kurang seorang Hari Prasetyo, merasa perlu melahirkan sebuah tulisan mirip resensi, untuk mengapresiasi karya pria asal Bukitinggi itu. Bahkan, Wartawan olahraga kawakan rasa sastrawan itu langsung mencari perbandingan buku Soccer Traveller-nya HK itu.

Hari, eks wartawan Tempo yang punya reputasi meliput tiga Asian Games, satu Olimpiade, dan tiga kali Euro (Kejuaraan sepakbola antar negara Eropa), seperti hendak menyandingkan dengan buku ; How Soccer Explains The World, An Unlikely Theory of Globalization, dari Franklien Foer.

Setelah sedikit basa-basa-basi tentang tampilan, design, dan lay out buku, plus kekaguman atas fighting spirit HK menerbitkan buku di periode Pandemi seperti sekarang, yang jelas secara tersirat Hari seperti ingin memberi pengakuan, bahwa Hardimen Koto adalah Franklien Foer-nya Indonesia.

Sedikit tentang Foer, seperti ditulis Hari Prasetyo, jurnalis asal Amerika Serikat ini menerbitkan bukunya tersebut pada 29 Juni 2004, Foer meminta cuti dari pekerjaannya sebagai editor The New Republic dan kontributor editor di New York magazine. Soal cuti ini ia tulis dalam bagian kata pengantarnya.

Foer lantas berkeliling dunia menemui berbagai tim atau klub dan kelompok suporter sepak bola, melongok berbagai stadion serta menganalisis hubungan di antara sepak bola dan ekonomi global. Ia lantas menghadirkan bukunya setebal 251 halaman, dengan ukuran lebar buku setengah dari buku Hardimen. Begitu rinci dan detail dia mendeskripsikan karya kedua orang itu.

Hipotesa yang hendak disampaikan Hari, Foer dan HK punya kesamaan sebagai sosok Soccer traveller sejati, Orang yang tak keberatan menjelajahi pojok-pojok dunia, demi sepakbola. Itu saja sudah menunjukan, bahwa seorang HK adalah sosok spesial di jagat jurnalistik olahraga Indonesia.

30 tahun karirnya dihabiskan dengan cara yang mungkin tak terbayangkan oleh oarang lain. Sepakbola adalah etalase-nya, kalau berbicara tentang sebuah reputasi seorang petarung dan petualang seperti HK.

Saya tahu betul, HK adalah sosok gigih, dia gemar mempermainkan emosi dan adrenalin-nya. Dia sangat bersemangat kalau bekerja berada di bawah tantangan dan tekanan. Dia tak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ada dalam pikirannya yang selalu “liar” kalau sudah bicara sepakbola.

“Percayalah, jika Anda bisa menyelesaikan semua ini, ujungnya akan indah. Saya tak heran jika Anda menangis di garis finish nanti.” terngiang kata-kata HK suatu hari, ketika saya dihadapkan pada sebuah pekerjaan berada dibawah tekanan dan harus selesai dalam waktu singkat.

Seperti dituliskan Hari, dalam setiap perjalanannya, HK tak hanya mengambil sepakbola-nya, tapi dia juga memungut hal-hal lain diluar sepakbola. Entah itu berbicara tentang sebuah tempat spesial, gaya hidup orang sono, kuliner, atau karakter masyarakat setempat, semuanya dikumpulkan Hardimen.

Tak heran, jika Soccer Traveller-nya, kita bisa meneropong dengan jelas seorang Hardimen Koto. Dia memang berbeda, dia punya style tersendiri. Akan sangat mudah membedakan mana orang yang sudah punya perjalanan jauh, dan mana orang yang perjalanan masih selemparan batu.

Tapi, Hardimen tak pelit berbagi kisah perjalanannya dengan tulisan-tulisan yang mudah dipahami. Saya pernah tertarik dengan salah satu kekecewaaannya tentang pesepakbola Indonesia yang susah berkembang dan enggan dilirik tim-tim luar negeri. Salah satunya karena adaptasi yang kaku, home sick, dan susah menyesuaikan diri dengan gaya hidup pesepakbola di negara maju.

Saya yakin kesimpulan itu didapat HK, karena dia sudah banyak berinteraksi, berkomunikasi, melihat, dan mengamati bagaimana pesepakbola diluar sana. Ada perbedaan yang nyata misalnya cara berbahasa, berbicara kepada pers, soal berpakaian, bahkan makanan, antara pemain luar dengan pemain Indonesia.

Itu karena dia pernah berhadapan langsung dengan sosok-sosok seperti Pele, Cruyff, Michael Owen, Roger Milla, Salif Diao, Ali Daie, dan segala macamnya. Itu semua ditulisnya dalam soccer traveller, lengkap dengan rekaman fotonya bersama para legenda itu.

Foto yang sebagian sudah buram, tetapi justru keburaman itu mewakili sebuah sejarah manis yang sudah berbilang puluhan tahun, bukti nyata bahwa Hardimen memang hadir di tempat-tempat spesial sepakbola dunia.

Sampai disini, siapa bisa membantah, sejatinya HK adalah sosok jurnalis gigih, penulis handal, dan sangat menyadari betapa pentingnya sebuah foto. Bahkan, ketika dunia teknologi informasi sudah berubah super kilat seperti sekarang, HK wajib bangga dia masih punya foto-foto jadul-nya yang buram nan bernilai tinggi itu.

Sebagai Epilog, Soccer Traveller-nya Hardimen Koto memang seperti telah membuka mata banyak orang, betapa berharganya sebuah kisah perjalanan dan perjuangan sebagai seorang jurnalis menembus batas-batas yang tak terbayangkan.

Hadirnya Soccer Traveller, bak mendapat guyuran air di Padang Sahara, ketika hari ini jurnalistik olahraga hanya lebih banyak bicara tentang adu cepat update, judul bombastik yang terkadang tak sesuai dengan isi, tentang siapa kalah menang, tentang skor pertandingan, atau tentang gosip para selebritas olahraga.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Berlatih Lagi, Tim Sepakbola PPLP Sumbar Rekrut 11 Pemain Baru

Preview: AC Milan vs Inter Milan, Misi Sulit Merebut Kembali Puncak Klasemen