in

Kilas Balik : Ternyata FIFA mengambil alih Futsal dari Asociacion Mundial de Futsal (AMF)

Permainan futsal tempoe doeloe/foto cendikia com

Padang, bolabeten – Perubahan peraturan baru futsal pada awal bulan Juni lalu yang dilakukan oleh FIFA ada 2 Juni lalu, menguak sebuah tabir otoritas pengelolaan olahraga dalam ruangan yang ditemukan oleh Juan Carlos Ceriani, tahun 1930 silam.

Fakta itu ditemukan bolebeten dari penelusuran sejarah perkembangan futsal dari berbagai literatur yang ditulis. Diantaranya melalui tulisan panjang gifarramzani, alumni jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran di laman FOOTBALL TRIBE.

Diceritakan, ada satu organisasi lain sebelum FIFA yang juga mengelola futsal, yakni Asociacion Mundial de Futsal (AMF). Meski baru resmi terbentuk pada 2002, namun organisasi inilah yang sejatinya mewarisi embrio futsal “orisinal”, dan hal tersebut tidak terlepas dari asal-usul futsal itu sendiri.

Pertandingan-pertandingan futsal antar negara dimulai pada tahun 1965. Dimulai dari lingkup regional: Amerika Selatan. Maryati dalam Mengenal Olahraga Futsal (2012:6) menyebutkan bahwa pada 1965, terselenggara sebuah kompetisi futsal internasional pertama.

Situs Rec Sport Soccer Statistics Foundation (RSSSF) mencatat terdapat empat negara yang menjadi peserta dalam ajang ini, yaitu Paraguay yang bertindak sebagai tuan rumah sekaligus keluar sebagai juara, Argentina, Uruguay, dan Brasil.

Empat tahun berselang di tempat yang sama, ajang ini kembali digelar. Bolivia hadir sebagai satu negara tambahan dan Brasil keluar sebagai pemenang.

Terdapat satu hasil penting lain dari ajang kedua ini, yaitu terbentuknya Confederación Sudamericana de Fútbol de Salón (CSFS) pada 14 September 1969. Kelima negara peserta sepakat menjadikan organisasi ini sebagai wadah perkembangan futebol salao di regional mereka.

Dua tahun kemudian, pertemuan kembali digelar pada 25 Juli 1971. Terdapat dua negara tambahan yang hadir, yaitu Peru dan Portugal.

Kehadiran negara terakhir memantik disepakatinya keputusan untuk mentransformasikan CSFS menjadi Federacao Internacional de Futebol de Salao (FIFUSA). Dengan kata lain, FIFUSA ditujukan untuk menjadi organisasi futsal secara global, tidak lagi regional.

Joao Havelange, perwakilan dari Brasil, ditunjuk sebagai ketua. Namun, Havelange pula yang di kemudian hari menjadi sosok kunci dalam “pengambilalihan” futsal oleh FIFA.

Bertugas selama tiga tahun di FIFUSA, Havelange terpilih sebagai Presiden FIFA pada 1974. Meski begitu, datangnya Havelange tidak serta-merta membuat FIFA menaruh perhatian terhadap futsal seketika. Momen tersebut baru terjadi memasuki periode 1980-an.

Pada 1982, seperti yang disebutkan dalam Sports Around the World: History, Culture, and Practice, Volume 2 suntingan John Nauright dan Charles Parrish (2012:109), FIFUSA menggelar ajang Piala Dunia futebol salao untuk pertama kalinya.

RSSSF mencatat terdapat 10 negara yang menjadi peserta dalam ajang ini, yaitu Brasil yang juga bertindak sebagai tuan rumah dan keluar sebagai juara, Paraguay, Uruguay, Kolombia, Cekoslovakia, Belanda, Argentina, Italia, Jepang, dan Kosta Rika.

Ajang inilah yang membuka mata FIFA terkait potensi besar olahraga ini, terutama dari segi ekonomi. Sejak saat itu, FIFA pun mulai melakukan berbagai usaha untuk mengambil alih futebol salao ke dalam organisasinya.

Sebagai indikasi awal, misalnya, seperti diberitakan Harian Kompas edisi 21 April 1985, Havelange mengadakan pembicaraan dengan Fernand Sastre, ketua FFF (Federasi Sepakbola Perancis) saat itu, mengenai kemungkinan menyelenggarakan ajang “sepak bola ruangan tertutup” di Paris pada 1985.

Meski memang menarik, namun ide tersebut ditolak Sastre karena negara mereka lebih menginginkan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia.

FIFA bahkan melakukan beberapa “serangan” kepada FIFUSA demi mencapai tujuannya ini. Misalnya, mereka melarang FIFUSA untuk menggunakan kata “futebol”, dan karena itulah istilah “futsal” lahir.

Pada 1985 di Madrid, dalam gelaran Piala Dunia yang kedua, FIFUSA meresmikan istilah tersebut sebagai nama dari olahraga yang mereka kelola.

Ajang Piala Dunia kedua ini juga yang menjadi target “serangan” FIFA selanjutnya. FIFA lewat Havelange mencoba melobi pemerintah Spanyol untuk tidak mendukung secara finansial ajang yang akan digelar di negara mereka.

Havelange–yang saat itu juga menjabat sebagai anggota International Olympic Commitee (sejak 1963 dan mengundurkan diri pada 2011)–bahkan meminta kepada koleganya Juan Antonio Samaranch yang merupakan ketua IOC untuk menggunakan hak veto-nya untuk menggagalkan pencalonan Barcelona sebagai tuan rumah Olimpiade 1992.

Gertakan ini ampuh untuk membuat pemerintah Spanyol mengikuti permintaaannya tersebut. Meski begitu, tanpa adanya dukungan finansial, FIFUSA tetap sukses menggelar ajang Piala Dunia kedua ini. Terdapat 12 negara yang menjadi peserta dan Brasil kembali keluar sebagai juara.

Bahkan, di tengah kesulitan ekonomi yang melanda, FIFUSA kembali menggelar Piala Dunia ketiga pada 1988 di Australia. Jumlah pesertanya pun semakin meningkat menjadi 16 negara. Di edisi ini, Paraguay keluar sebagai pemenang.

Setahun berikutnya, giliran FIFA yang mengambil langkah mengejutkan dengan menggelar Piala Dunia versi mereka untuk pertama kalinya pada 1989 di Belanda.

Dengan nama futsal yang dimiliki FIFUSA, FIFA menyebut olahraga ini dengan five-a-side football (FIFA baru secara resmi mulai menggunakan istilah futsal pada Piala Dunia ketiga versi mereka pada 1996 di Spanyol). Diikuti 16 negara, Brasil berhasil menjadi juara.

Terdapat satu hal penting lain dari penyelenggaraan Piala Dunia futsal versi FIFA yang pertama ini, di mana mereka menerapkan beberapa peraturan futsal yang berbeda dibanding dengan yang digunakan FIFUSA.

Salah satu yang paling tampak adalah ketika bola keluar. Baik out atau corner, FIFA menggunakan skema kick in sedangkan FIFUSA menerapkan throw in. Inilah salah satu peraturan yang membedakan futsal versi FIFA dengan FIFUSA yang nantinya bertransformasi menjadi AMF dan bertahan hingga kini.

FIFA juga melakukan usaha yang lebih diplomatik dalam mengambilalih futsal dari FIFUSA. Mereka menawarkan untuk membentuk sebuah komite bersama (joint commision). Syaratnya, FIFUSA harus bersedia berada di bawah otoritas FIFA.

Usulan ini direspon FIFUSA dengan melakukan pertemuan internal bersama 19 anggotanya pada 23 November 1989 di Sao Paolo. Mereka pun melakukan voting. Hasilnya: 12 menolak, 5 setuju, dan 2 abstain.

Namun, tiga di antara yang menolak tersebut merupakan “pemain” besar dalam futsal, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan yang terutama Brasil.

Setahun kemudian, ketiganya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan FIFUSA dan bergabung dengan FIFA. Keputusan ini jelas mempengaruhi negara-negara lain yang mulai tertarik untuk mengembangkan futsal dalam memilih organisasi mana yang menjadi induknya.

Serangkaian “serangan” ini pada akhirnya merobohkan FIFUSA. Seperti dikutip dari situs resmi AMF, dengan segala kesulitan yang dihadapi terutama dari sisi ekonomi, mereka pun memutuskan untuk membubarkan diri pada 1990.

Meski begitu, seperti dikutip dari situs Panafutsal, sembilan mantan anggota FIFUSA yaitu Paraguay, Kolombia, Meksiko, Uruguay, Argentina, Venezuela, Kosta Rika, Puerto Rico, dan Bolivia memutuskan untuk membentuk Pan American Futsal Confederation (Panafutsal) pada 25 September 1990.

Di satu sisi, keputusan ini mungkin terlihat sebagai sebuah langkah mundur karena ketidakmampuan mereka dalam mengelola futsal secara internasional dan hanya bisa melakukannya secara regional. Namun di sisi lain, langkah ini juga menunjukan usaha resistensi demi menjaga eksistensi.

Pada 2000, Panafutsal dan FIFA sebenarnya sempat “bersatu”. Keduanya membuat kesepakatan di mana FIFA memberi wewenang penuh kepada Panafutsal untuk mempraktikkan futsal versi mereka dan sebagai gantinya Panafutsal menjadi bagian FIFA di bawah CONMEBOL (Konfederasi FIFA untuk wilayah Amerika Selatan).

Kesepakatan ini hanya bertahan selama dua tahun karena Panafutsal menganggap FIFA tidak menepati kesepakatan tersebut secara konsisten.

Panafutsal pun akhirnya menarik diri dari FIFA dan mendirikan Asociacion Mundial de Futsal (AMF) pada 2002. Sejak saat itu, keduanya pun mengelola futsal versi mereka masing-masing secara terpisah hingga kini.

AMF sendiri tercatat telah lima menggelar Piala Dunia futsal versi mereka: 2003 (Paraguay), 2007 (Argentina), 2011 (Kolombia), 2015 (Belarusia), dan 2019 (Argentina). Bahkan, termasuk juga tiga kali Piala Dunia futsal wanita: 2008 (Spanyol), 2013 (Kolombia), dan 2017 (Katalunya).

Dalam situs resminya, AMF menyebutkan bahwa mereka memiliki 29 anggota. Berbanding jauh dengan FIFA yang memiliki 211 anggota.

Perbedaan sumber daya inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat futsal versi AMF kurang tersebar dan tidak dikenal, salah satunya seperti di Indonesia.

Padahal, jika menilik sejarah tersebut, kita bisa menyebut bahwa mereka lah pewaris asli dari olahraga ini.

Namun, di era kekinian FIFA melakukan perubahan-perubahan seperti yang diumumkan lewat sutus resmi, pada tanggal 2 Juni 2020 lalu.

Beberapa pembaruan yang hadir di antaranya adalah kiper yang hanya boleh melempar bola di area permainan timnya, jumlah penendang dalam babak adu penalti yang bertambah menjadi lima dari asalnya tiga, dan sepak mula yang dilakukan cukup oleh satu pemain seperti dalam sepak bola.

Sebagai salah satu cabang olahraga yang dikelolanya (selain bola pantai dan sepak bola tentunya), FIFA tentu punya otoritas untuk melakukan hal demikian.

Tetapi, sejarah mengatakan telah menerangkan perjalanan futsal sebelum diambil alih FIFA yang menjadi organisasi pengelola futsal sekarang. (*)

sumber : FOOTBALL TRIBE

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Ketua AFP Sumbar Ungkapkan Sistim Liga Pro Diubah, Tak ada Liga Futsal Nusantara di 2020

Hadiri ‘Football Is Back’ Eks. Persija asal Sumbar ini Terharu Saksikan Kompaknya Legenda Timnas Indonesia