in , ,

Features: Swiss 1954, Kisah Wartawan Indonesia Pertama Meliput Piala Dunia

Padang, bolabeten – Setiap pesta sepak bola empat tahunan itu digelar, sejumlah media selalu mengirim para jurnalisnya untuk meliput langsung ke venues-venues pertandingan, termasuk dari Indonesia. Tetapi, apakah tidak terlalu berlebihan mengirim wartawan dari Indonesia untuk meliput piala dunia, sementara tim negaranya tidak pernah tampil di ajang olah raga terpopuler itu?

Pertanyaan seperti ini sering diterima para wartawan Indonesia ketika mereka bertemu jurnalis dari seluruh dunia yang kebetulan timnasnya ikut berlaga. “Warga Indonesia itu gila bola,” begitulah salah-satu jawaban yang sering terdengar dari pengalaman sejumlah wartawan yang pernah meliput langsung Piala Dunia.

Pertanyaan berikutnya: apa istimewanya hadir langsung di stadion yang dipenuhi puluhan ribuan suporter, dan melihat langsung para bintang sepak bola bertarung merebut bola? Jawababnya tentu kecintaan pada profesi, juga kepada bola itu sendiri.

Lebih dari itu, seorang wartawan olahraga, belumlah lengkap karir jurnalistik jika belum meliput Piala Dunia. Karena Piala Dunia adalah iven olahraga nomor satu di dunia, bahkan iven sekelas Olimpiade yang multicabang, jauh rating-nya dibawah Piala Dunia sepakbola.

Tidak diketahui secara persis, sejak kapan wartawan Indonesia meliput langsung turnamen akbar itu, namun beberapa laporan menyebut momen Piala Dunia 1974 di Jerman (Barat) telah dihadiri oleh jurnalis Indonesia. Tetapi, faktanya 20 tahun sebelumnya sudah ada wartawan Indonesia yang meliput Piala Dunia 1954 di Swiss.

Tentu jauh berbeda bagaimana meliput Piala Dunia jaman Jadul dengan Piala Dunia era modern. Ketika teknologi informasi semakin tak terkendali sekarang, sangat membantu kerja para jurnalis. Bukan hal aneh, jika sekarang wartawan bisa livescore dari stadion, atau melakukan siaran langsung pernak-pernik Piala Dunia. Dulu?

********

KERETA api itu berhenti di dekat Stadion Santo Yakobus, Basel, Swiss. Sebagian besar penumpangnya orang Jerman Barat. Dari jendela kereta, penumpang bisa melihat pertandingan Jerman Barat melawan Hungaria pada 20 Juni 1954. Sebab letak rel kereta berada lebih tinggi daripada stadion.

“Dengan demikian orang-orang Jerman masih juga dapat mengikuti pertandingan itu dari jendela kereta api,” tulis Suharso dalam “Kesan-Kesan Semasa Merebut Kedjuaraan Sepakbola Sedunia 1954”, termuat di Aneka, No 15, 20 Juli 1954.

Suharso bekerja sebagai kontributor majalah Aneka dalam Piala Dunia 1954. Dia mungkin menjadi salah satu wartawan asal Indonesia yang paling awal meliput Piala Dunia setelah kemerdekaan.

Latar belakang Suharso tak banyak tersua dalam literatur sejarah pers Indonesia. Namanya muncul sepintas lalu dalam buku 20 Tahun Indonesia Merdeka terbitan Departemen Penerangan. Di situ tertulis bahwa Suharso menjadi pelopor pembentukan Seksi Wartawan Olahraga Indonesia Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) Jakarta pada 1966.

Laporan Suharso tentang Piala Dunia 1954 berkali-kali muncul di Aneka edisi Juni-Juli 1954. Aneka merupakan salah satu majalah olahraga dan film ternama di Indonesia pada dekade 1950-an. Artikel olahraga Aneka mempunyai kekhasan daripada artikel majalah olahraga sezaman seperti Panorama, Tjakram, Arena Sport, dan Olah Raga.

Aneka kerap menghadirkan artikel olahraga karya penulis-penulis Indonesia dari sudut pandang yang tak terduga, sedangkan majalah olahraga lainnya banyak menyadur atau menerjemahkan artikel wartawan olahraga luar negeri.

Kekhasan lain Aneka ialah mampu bertahan beberapa lama, dari terbit perdana pada pertengahan 1950 hingga tutup cerita pada dekade 1960-an. Menurut Kurniawan Djunaedi dalam Rahasia Dapur Majalah Indonesia, majalah olahraga ketika itu lazimnya berumur pendek.

Salah satu kekhasan Aneka tampak dalam artikel-artikel Suharso tentang Piala Dunia. Dia menyajikan pernak-pernik unik Piala Dunia kepada pembaca Indonesia. Misalnya tentang sebuah kereta sengaja berhenti untuk memberi orang Jerman Barat kesempatan menonton sepakbola.

Suharso bercerita pula cara tuan rumah Swiss mempersiapkan Piala Dunia. “Pada waktu itu juga kepada semua penduduk-penduduk di tempat-tempat pertandingan, Bern, Basel, dan lain-lain, diedarkan formulir-formulir dengan pertanyaan apakah sudi menyediakan satu atau dua tempat buat menginap, yang akan diganti ongkos kerugiannya,” tulis Suharso.

Suharso juga memberi tahu pembaca Indonesia bagaimana cara orang menonton pertandingan di Piala Dunia. Panitia telah menjual tiket pertandingan kepada penonton sejak tiga bulan sebelum hajatan digelar.
“Tetapi bukan karcis yang diterima oleh si pemesan, akan tetapi sebuah surat yang mengatakan bahwa si pemesan sudah mendapat karcis, yang akan dikirim beberapa hari sebelum pertandingan,” kenang Suharso.

Tapi sebagai wartawan, Suharso tak perlu memesan tiket jika ingin menonton pertandingan. Dia cuma perlu memiliki kartu identitas resmi dari panitia untuk akses masuk ke stadion. Masalahnya jalan untuk memperoleh kartu identitas itu berliku. “Ini lebih-lebih sulit,” ungkap Suharso dalam Aneka, No. 1, Februari 1956.

Panitia Piala Dunia 1954 membentuk Bureau l’Association de la Presse Sportive untuk melayani keperluan peliputan wartawan dari antero dunia. Kantornya berupa gubuk rongsok di pinggir kali. “Orang tidak akan percaya kalau tempat rongsok itu telah berjasa sekali dalam pertandingan sepakbola sejagat di tahun 1954,” lanjut Suharso.

Suharso mengisi formulir izin peliputan di gubuk rongsok itu. Daftar isiannya antara lain data diri dan foto Suharso. Syarat lainnya ialah contoh terbitan media tempat bekerja Suharso, kartu pers, dan sejumlah foto hasil jepretannya.

Ketika telah memperoleh kartu identitas peliputan, Suharso tak bisa sembarang duduk di stadion. Tempatnya sudah ditentukan panitia. Juru foto boleh berada di tepi lapangan. Tapi mereka dilarang memotret suasana pertandingan dengan blitz kamera.

Posisi wartawan penulis berada di tribun. Kalau masih ada kursi, mereka boleh duduk. Namun jika penuh, terpaksa berdiri.

Selama meliput Piala Dunia, Suharso bersama seorang wakil PSSI. Namanya Moerdono. Suharso menyarankan Moerdono agar mendatangkan tim Hungaria ke Indonesia. Menurut Suharso, Hungaria memiliki permainan rapi dan cepat. Siasat ini sukses membawa mereka menembus final untuk melawan Jerman Barat.

Meskipun Hungaria kalah oleh Jerman Barat, Suharso yakin Hungaria bisa kasih timnas Indonesia banyak pelajaran jika PSSI mau mendatangkan mereka.

“Kalau PSSI ingin maju dalam Olimpiade di Melbourne nanti pada tahun 1956, rasanya tidak ada buruknya untuk mengundang juga Ungarn (Hungaria, red.) ke Indonesia,” kata Suharso kepada Moerdono. Mendengar usulan Soeharso, Moerdono hanya menggelengkan kepala.

Timnas Hungaria tidak pernah datang ke Indonesia. Prestasi timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne pun sebatas menahan imbang Uni Soviet dengan skor 0-0. Di pertandingan ulangan, timnas Indonesia menyerah 0-4 kepada Uni Soviet. Mungkinkah hasilnya berbeda jika pengurus PSSI mendengar saran Suharso? (*)

Sumber: historia.id

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Dinihari Nanti, Barcelona vs Napoli dan Bayern vs Chelsea; Mencari Dua Pemilik Tiket Terakhir Perempatfinal Liga Champions

Hasil Kualifikasi MotoGP Ceko: Johann Zarco Raih Pole Position, Valentino Rossi Posisi 10