in ,

Cerita Anak Minang di Kutub Sepakbola Dunia; Dari Nilmaizar Sampai Genta Alparedo

Oleh: Rizal Marajo

Terpilihnya pemain muda semen Padang Fc, Genta Alparedo menjalani latihan ke Spanyol  bersama Timnas Indonesia U-19, tentunya sesuatu yang membanggakan. Sebagai pemain muda berpotensi, bisa mencicipi latihan di salah satu negara kiblat sepakbola tentunya menjadi pengalaman yang sangat langka. Sangat berharga dan tentunya tak ingin disia-siakan oleh pemain belia seperti Genta.

Kalau ditelusuri jejak-jejak pemain sepakbola asal Sumbar yang sempat mencicipi latihan di dua kutub sepakbola dunia, Eropa dan Amerika Latin, Genta memang bukan yang pertama. Entah itu namanya ikut TC Timnas, program khusus tim binaan, atau trial di klub-klub Eropa.

Nama pertama yang harus disebut tentu saja Nilmaizar, pria asal Payakumbuh ini bisa dikatakan salah satu pendobrak tebalnya tembok sepakbola Eropa, tidak hanya bagi pemain asal Ranah Minang, tapi juga Indonesia.

Ketika masuk skuad Tim Garuda II 1990, Nilmaizar dan kawan-kawan sempat menjalani TC di Cekoslowakia. Seminggu setelah pulang ke Indonesia, Nil bersama tiga rekannya; Rochy Poetiray, Agus Yuwono, dan Heriansyah terbang kembali ke negara Eropa Timur itu. Mereka direkomendasikan pelatih Josef Masopust untuk berlatih di klub besar negara itu.

Nil dan Agus berlatih di Sparta Praha, sementara Rochy dan Heriansyah di Dukla Praha. Namun, dalam kompetisi Nil dan Agus dipinjamkan bermain di klub kasta kedua Cekoslowakia, Benossov. Nil sempat bermain disana selama setengah musim. Itulah kiprah Nil, anak Nunang Payakumbuh menembus Eropa.

Sebelumnya, ada yang menyebutkan bahwa Suhatman Imam pernah trial di klub Eredivisie Belanda, Go Ahead Eagles, atas rekomendasi pelatih Timnas saat itu Wiel Coerver. Namun, tidak ada referensi dan bukti tertulis yang cukup valid untuk menunjukan legenda hidup sepakbola Sumbar itu memang pernah mengecap trial di Belanda.

Setelah Nilmaizar, anak minang lain yang sempat mencicipi Eropa adalah duet Primavera, Gusnedi Adang dan Yeyen Tumena. Mereka berlatih di Tavarone, Italia, melalui Proyek yang didanai oleh pengusaha Nirwan Bakrie, bekerja sama dengan Sampdoria, klub elite Italia saat itu.

Lewat jalur Sampdoria, tim muda Indonesia bisa bertanding di kompetisi Primavera musim 1993-1994. Disanalah Gusnedi dan Yeyen mencicipi kompetisi di negara Eropa. Kedua jebolan Primavera ini cukup sukses baik di klub, maupun Timnas Indonesia era 1990-an.

Bobby Satria juga sempat menjalani TC di Eropa, tepatnya di Belanda. Bersama Timnas U-23 yang dipersiapkan untuk Asian Games Doha Qatar 2006, dibawah asuhan pelatih Foppe de Haan, Bobby dan kawan-kawan berlatih enam bulan di Herenveen, Belanda. Bahkan, anak PSTS Tabing itu juga dipercaya sebagai kapten timnas U-23 saat itu.

Setelah Bobby, program sepakbola yang cukup banyak menarik pemain asal Sumbar atau berdarah Minang berlatih di luar negeri adalah Sociedad Anonima Deportiva, atau yang dikenal SAD. Inilah program paling lama dalam mengirimkan pemain ke luar negeri. Namun, para pemain yang terpilih mengikuti program tersebut tidak dibawa berlatih ke Eropa, tetapi ke kutub lain sepakbola dunia yaitu Amerika Selatan, tepatnya di Uruguay.

Di negara pemegang dua kali juara dunia ini, program ini berjalan sejak 2008 hingga 2012. Para pemain Indonesia tak hanya sekadar berlatih, melainkan juga ambil bagian di kompetisi junior Uruguay, Quinta Division.

Dari empat kali pengiriman pemain sejak 2008, terdapat nama-nama pemain asal Sumbar. SAD angkatan pertama terdapat nama Davitra dan Randi Chandra dari Sumbar. Selain itu ada nama Alan Martha dan Novri Setiawan. Juga ada nama berdarah minang seperti Syamsir Alam. Namun, dari nama-nama tersebut, yang bertahan sampai sekarang di level kompetisi kasta tertinggi hanya Novri Setiawan.

Generasi berikutnya dari SAD yang menonjol adalah Teja Paku Alam. Portiere jebolan SAD 2011 ini bahkan menjelma menjadi salah satu kiper terbaik Indonesia saat ini. Lelaki asal Pesisir Selatan yang kini memperkuat Persib Bandung, juga berulangkali mendapat panggilan Timnas Indonesia, walau sejauh ini masih menunggu caps pertamanya berseragam merah putih.

Pasca program SAD, masih ada anak Minang lain yang bertualang ke benua biru Eropa memperdalam ilmu sepakbola. Melalui Timnas U-19 2014, Febli Gushendra anak Lubuk Basung dan Rully Desrian dari Pessel, mengikuti TC di Barcelona untuk persiapan Piala Asia U-20 2014.

Di Barcelona, tim ini tak hanya berlatih, tetapi sempat ujicoba melawan tim Barcelona B, yang diperkuat oleh dua pemain kelas duania, Luis Suarez dan Thomas Vermaelen. Selain Barcelona B, mereka juga sempat melawan tim yunior klub-klub besar Spanyol, seperti Atletico Madrid dan Real Madrid,

Akhirnya, sampailah pada Genta Alparedo di penghujung 2020 terbang ke Spanyol. “Anak Kuranji itu ke Barcelona”, antara lain beberapa media menggambarkan mission imposible seorang anak muda yang punya bakat di sepakbola, mencoba meraih mimpinya.

Apapun itu, tentunya sebuah kesempatan bagi Genta untuk memanfaatkan kesempatan yang langka itu. Setidaknya bagi dirinya sendiri, kalau memang ingin menjadikan sepakbola sebagai masa depannya. Timnas, Barcelona, dan Spanyol, akan menjadi referensi hebat yang akan mewarnai karirnya di masa depan.

Bagaimanapun, pola pikir, cara pandang, pengalaman, dan motivasinya akan berbeda dibanding pemain yang belum mendapat kesempatan seperti dirinya, pasti akan sangat berbeda. Tapi disini pula ujian terberatnya, kembali ke dirinya sendiri. Bisa tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, atau cukup puas sekadar bisa tur ke Barcelona. Genta bisa belajar dari para senior dan pendahulunya.(*)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Tiba di Spanyol, Shin Tae-yong Gelar Internal Game TC Timnas U-19

Big Match: AC Milan vs Juventus, Upaya Menegaskan Kandidat Scudetto